Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan konser Paskah pada Sabtu, 19 April 2014. Konser kali ini memainkan dua karya besar. Yang pertama adalah melanjutkan konser bulan sebelumnya yakni menyelesaikan karya agung Antonio Vivaldi "The Four Seasons" bagian Autumn dan Winter.
Karya besar yang kedua adalah karya George Frideric Handel (1685-1759) "Messiah". Handel senantiasa tertarik kepada melodi dan suara yang indah (eufoni) - standar kesempurnaan Latin yang tertinggi. Ia tetap memakainya sepanjang hidupnya. Tak ada orang Jerman yang dapat mengunggulinya dalam menulis melodi-melodi yang indah. Namun kita harus menyatakan yang sebenarnya bahwa zaman Barok merupakan zaman kebesaran musik Protestan, dan tentunya kita tahu bahwa budaya Protestan berakar dalam Alkitab.
Sedikit orang menyadari ketegangan dan kedalaman emosinya dalam luapan sukacita, kemarahan, antusiasme, atau kesedihan yang besar. Manakala Handel menciptakan Messiah yang diselesaikan dalam waktu 24 hari tanpa sesaatpun meninggalkan rumah, pembantunya membawakan makanan untuknya, namun makanan itu seringkali tidak disentuhnya. Saat mengerjakan "Hallelujah Chorus", pembantunya mendapati Handel berurai air mata. Handel berseru, "Aku rasa aku benar-benar meilhat seluruh sorga di hadapanku dan bahkan Allah sendiri!".
Handel menciptakan Messiah pada tahun 1741 saat berusia 56 tahun. Sebagaimana yang diamati oleh Newman Flower, "Mengingat kebesaran karya itu, dan waktu yang singkat dalam menuliskannya, maka karya tersebut akan tetap, barangkali untuk selamanya, menjadi prestasi terbesar dalam keseluruhan sejarah komposisi musik."
Bagian kedua dari Messiah menampilkan lagu-lagu berkaitan dengan penderitaan Kristus, kematian, kebangkitan, juga kenaikan ke surga. Hallelujah Chorus yang merupakan bagian dari kemenangan Allah juga ditampilkan pada bagian akhir Part II. Part III dimulai dengan soprano yang sangat terkenal, emosional tetapi meyakinkan "I know that my Redeemer liveth". Karya ini diakhiri dengan nyanyian pujian dari kitab Wahyu "Worthy is the Lamb" dan "Amen Chorus" yang dinyanyikan oleh Jakarta Oratorio Society.
Konser kali ini didireksi oleh konduktor Dr. Stephen Tong. Terdapat beberapa penyanyi dalam konser kali ini. Anna Koor dan Cecilia Yip pernah beberapa kali tampil di ASJ.
Tenor yang ditampilkan dalam konser kali ini adalah tenor Korea Selatan Jae Wook Lee. Lee merupakan penyanyi opera yang pernah tampil di berbagai negara di dunia antara lain Italia, Singapura, Ekuador dan Filipina. Ia juga pernah tampil sebagai penyanyi resital dan solois di Jerman, Jepang, Amerika Selatan dan China. Ia belajar vocal di Hanyang University, Seoul dan kemudian di Orfeo International Vocal Music Academy, Italia. Ia pernah dianugerahi "The First Prize winner dalam The National Vocal Music Competition di Korea dan memenangkan beberapa kompetisi internasional.
Bariton yang mementas dalam konser kali ini adalah Noel Azcona. Ia pernah tampil dalam konser di ASJ pada tahun 2011 di bawah direksi Dr. Stephen Tong. Ia pernah tampil dalam 10 tur konser dunia sebagai asisten konduktor dan solois di berbagai kota penting di Eropa, Amerika Serikat, Meksiko, Kanada dan Asia.
Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.
(sumber: buku "Karunia Musik" dan wikipedia.org)
Selasa, 15 April 2014
Selasa, 04 Maret 2014
Konser 23 Mar. '14: Vivaldi The Four Seasons
Aula Simfonia Jakarta dengan arahan conductor Dr. Stephen Tong dan Dr. Billy Kristanto bersama Jakarta Simfonia Orchestra akan mementaskan karya besar The Four Seasons yang digubah oleh komponis Italia Antonio Vivaldi.
Antonio Vivaldi (1678-1741) dilahirkan dalam keluarga musik di mana ayahnya seorang pemain biola terkemuka. Vivaldi mengawali pendidikan menjadi imam tetapi kemudian ia beralih menjadi musikus. Ia telah ditahbiskan menjadi pastor pada tahun 1703 tetapi karena kondisi kesehatannya, ia dibebaskan dari tugas itu dan seumur hidupnya mengabdikan diri dalam pelayanan musik.
Vivaldi meninggal dalam kemiskinan dan tanpa kemahsyuran, karena tak ada yang tahu di mana kuburnya. Musiknya tak dikenal, dilupakan dalam perpustakaan umum maupun pribadi. Musik Vivaldi yang terasa hidup itu akan dilupakan selamanya bila Bach tidak membuat salinan beberapa karyanya. Bach diketahui telah menyalin setidaknya sembilan concerto Vivaldi.
Semakin banyak sarjana mengakui Vivaldi sebagai inovator musik yang kuat, komponis dengan daya cipta yang hebat dan pencipta sesungguhnya dari konserto solo yang dipikirkan sebelumnya oleh Corelli dan Torelli.
Vivaldi menjadi kepala Konservatori (sekolah musik atau sekolah seni lainnya) Ospedale della Pieta, yang mempunyai hubungan dengan empat institusi biara. Tempat ini merupakan tempat penampungan yang kadang menampung hingga 6000 anak perempuan hasil hubungan di luar nikah. Sebelum adanya tempat penampungan ini, anak-anak itu biasanya dibuang di kanal-kanal kota. Dalam konservatori ini, anak-anak diajar bernyanyi, memainkan biola, flute, oragan, oboe, cello dll.
Setiap hari minggu atau hari-hari libur diadakan pertunjukan musik di kapel oleh anak-anak gadis ini. Para penonton diperbolehkan datang dan diizinkan duduk sepanjang mereka mau. Tetapi, tepuk tangan tidak diperbolehkan. Sebagai gantinya, terdapat bunyi batuk, dengusan hidung, hentakan kaki dan lainnya. Banyak musisi termasuk Handel yang memberi komentar positif terhadap pertunjukan ini.
Di manapun Vivaldi berada, ada berlimpah-limpah gubahan musik. Vivaldi merupakan komponis progresif yang penuh dengan ide dan konservatori itu merupakan lingkungan yang indah untuk bereksperimen dengan musik. Ia seorang yang kontras - mudah marah tetapi mudah pula tenang. Karakteristik ini tercermin dalam musiknya yang diwarnai dengan kontras dramatis dalam dinamika dan harmoni serta ritme yang berubah-ubah namun ketergesaannya dalam menggubah musik adalah salah satu kelemahannya. Ada banyak kreasi dan melodi yang indah dalam musik Vivaldi karena ia senantiasa mencari suara-suara baru. Vivaldi selalu siap sedia dengan alat musik dan penyanyi untuk mencoba ide-ide barunya.
The Four Seasons barangkali merupakan karya Vivaldi yang paling terkenal. Itu adalah salah satu karya besarnya dalam musik deskriptif yang menandai kehidupan musik dalam zaman Vivaldi. Gayanya menjadi gaya yang diikuti sampai saat ini. Suara-suara burung yang dihasilkannya sama jelasnya dengan beberapa mosaik burung yang indah di Katedral St. Mark. Karyanya sering dipertunjukkan pada zaman ini. Vivaldi seorang penyair yang penuh dengan kuasa dalam liriknya, menciptakan sebuah soneta untuk tiap musim dan musik akan mengiringi tiap-tiap musim itu. The Four Seasons menghadirkan paralel gaya Barok yang penting dengan oratorio Haydn The Seasons. Selanjutnya muncul simfoni Pastoral Beethoven. Vivaldi merupakan salah seorang tokoh terkemuka pada masa transisi dari akhir gaya Barok menuju awal gaya klasik.
Konser The Four Seasons akan dibagi dua tahap yakni pada konser 23 Maret 2014 dan 19 April 2014. Silahkan menghubungi www.aulasimfoniajakarta.com untuk ticketing.
(dari buku "Karunia Musik" [Surabaya: Momentum])
Antonio Vivaldi (1678-1741) dilahirkan dalam keluarga musik di mana ayahnya seorang pemain biola terkemuka. Vivaldi mengawali pendidikan menjadi imam tetapi kemudian ia beralih menjadi musikus. Ia telah ditahbiskan menjadi pastor pada tahun 1703 tetapi karena kondisi kesehatannya, ia dibebaskan dari tugas itu dan seumur hidupnya mengabdikan diri dalam pelayanan musik.
Vivaldi meninggal dalam kemiskinan dan tanpa kemahsyuran, karena tak ada yang tahu di mana kuburnya. Musiknya tak dikenal, dilupakan dalam perpustakaan umum maupun pribadi. Musik Vivaldi yang terasa hidup itu akan dilupakan selamanya bila Bach tidak membuat salinan beberapa karyanya. Bach diketahui telah menyalin setidaknya sembilan concerto Vivaldi.
Semakin banyak sarjana mengakui Vivaldi sebagai inovator musik yang kuat, komponis dengan daya cipta yang hebat dan pencipta sesungguhnya dari konserto solo yang dipikirkan sebelumnya oleh Corelli dan Torelli.
Vivaldi menjadi kepala Konservatori (sekolah musik atau sekolah seni lainnya) Ospedale della Pieta, yang mempunyai hubungan dengan empat institusi biara. Tempat ini merupakan tempat penampungan yang kadang menampung hingga 6000 anak perempuan hasil hubungan di luar nikah. Sebelum adanya tempat penampungan ini, anak-anak itu biasanya dibuang di kanal-kanal kota. Dalam konservatori ini, anak-anak diajar bernyanyi, memainkan biola, flute, oragan, oboe, cello dll.
Setiap hari minggu atau hari-hari libur diadakan pertunjukan musik di kapel oleh anak-anak gadis ini. Para penonton diperbolehkan datang dan diizinkan duduk sepanjang mereka mau. Tetapi, tepuk tangan tidak diperbolehkan. Sebagai gantinya, terdapat bunyi batuk, dengusan hidung, hentakan kaki dan lainnya. Banyak musisi termasuk Handel yang memberi komentar positif terhadap pertunjukan ini.
Di manapun Vivaldi berada, ada berlimpah-limpah gubahan musik. Vivaldi merupakan komponis progresif yang penuh dengan ide dan konservatori itu merupakan lingkungan yang indah untuk bereksperimen dengan musik. Ia seorang yang kontras - mudah marah tetapi mudah pula tenang. Karakteristik ini tercermin dalam musiknya yang diwarnai dengan kontras dramatis dalam dinamika dan harmoni serta ritme yang berubah-ubah namun ketergesaannya dalam menggubah musik adalah salah satu kelemahannya. Ada banyak kreasi dan melodi yang indah dalam musik Vivaldi karena ia senantiasa mencari suara-suara baru. Vivaldi selalu siap sedia dengan alat musik dan penyanyi untuk mencoba ide-ide barunya.
The Four Seasons barangkali merupakan karya Vivaldi yang paling terkenal. Itu adalah salah satu karya besarnya dalam musik deskriptif yang menandai kehidupan musik dalam zaman Vivaldi. Gayanya menjadi gaya yang diikuti sampai saat ini. Suara-suara burung yang dihasilkannya sama jelasnya dengan beberapa mosaik burung yang indah di Katedral St. Mark. Karyanya sering dipertunjukkan pada zaman ini. Vivaldi seorang penyair yang penuh dengan kuasa dalam liriknya, menciptakan sebuah soneta untuk tiap musim dan musik akan mengiringi tiap-tiap musim itu. The Four Seasons menghadirkan paralel gaya Barok yang penting dengan oratorio Haydn The Seasons. Selanjutnya muncul simfoni Pastoral Beethoven. Vivaldi merupakan salah seorang tokoh terkemuka pada masa transisi dari akhir gaya Barok menuju awal gaya klasik.
Konser The Four Seasons akan dibagi dua tahap yakni pada konser 23 Maret 2014 dan 19 April 2014. Silahkan menghubungi www.aulasimfoniajakarta.com untuk ticketing.
(dari buku "Karunia Musik" [Surabaya: Momentum])
Selasa, 04 Februari 2014
Konser 22 Feb. '14: Bach Orchestral Suite No. 3 (+Vivaldi, Schubert, Arne, Mendelssohn)
Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan konser yang penting pada 22 Februari 2014 dengan judul From Bach to Mendelssohn".
Terdapat beberapa karya besar yang dipentaskan dalam konser ini. Karya pertama adalah komposisi Bach Orchestral Suite No. 3. Karya ini digubah oleh Johann Sebastian Bach. Bach diakui sebagai komponis yang begitu besar dan agung sampai-sampai muncul adagium "Tanpa sadar Bach telah membagi sejarah musik dalam dua periode utama: zaman sebelum Bach dan zaman sesudah Bach. Pada zaman sesudah Bach, kehadirannya tetap dirasakan terus menerus".
Bach dan Handel dianggap sebagai tokoh terbesar zaman Barok (1600-1750). Istilah "Barok" berasal dari kata Portugis "barroco" yang berarti mutiara yang tidak teratur. Istilah "Barok" bukan sekedar menandakan suatu era dalam musik tetapi juga merupakan suatu zaman karena semangat Barok tampak dalam karya-karya non musik antara lain arsitektur dan lukisan (Rembrandt, Rubens, dll). Musik Barok menekankan beberapa ciri antara lain polifonik (banyak suara), kontrapung (counter-point - pergerakan nada yang mandiri/ berlawanan), penuh ornamentasi (detil yang rumit). Komponis Barok yang terkenal selain Bach dan Handel antara lain Schutz, Vivaldi, Rameau dan sebagainya.
Bach lahir dalam keluarga Kristen beraliran Lutheran. Fokus kehidupan spiritual Bach adalah di dalam kekristenan dan pelayanan rohani melalui musik. Bach adalah seorang yang berhutang kepada Tuhan dan terutama Tuhan Yesus sebagai Juruselamat-nya. Keyakinannya akan realitas surga membuat karya-karyanya tak lekang dimakan waktu. Bach menggunakan hidupnya dalam pelayanan musik bagi Allah tanpa menyadari kehebatan karyanya yang luar biasa itu. Motivasi utama Bach dalam menulis musik adalah untuk memuliakan Allah. Motivasi lainnya adalah edifikasi. Motivasi Bach sama seperti tujuan utama ibadah dalam teologi Reformasi: the glorification of God and the edification of the church. Pada halaman judul Bach menuliskan "untuk kemuliaan Allah di tempat yang mahatinggi dan untuk meningkatkan proses belajar setiap orang". Karena motivasi-motivasi ini maka Bach tidak pernah asal-asalan menggubah komposisi. Ia selalu mau menghasilkan komposisi yang terbaik.
Setelah kematian orang tuanya, Bach yang berusia sepuluh tahun tinggal bersama kakak lelakinya Johann Christoph yang telah berguru pada Pachelbel (ingat Canon in D-nya yang sangat terkenal?). Kakaknya adalah seorang guru yang sangat keras. Kakaknya mempunyai satu set komposisi yang tidak boleh dipakai oleh Johann Sebastian sehingga selama 6 bulan di tengah sunyinya malam dengan cahaya terang bulan ia menyalin semua komposisi itu. Sayangnya, inilah yang mungkin menyebabkan kebutaan di kemudian hari.
Setelah kematian kakaknya, Bach mengenyam pendidikan yang berfokus pada instrumen biola dan biola alto. Sebelum berusia 18 tahun, ia telah dikenal sebagai seorang ahli dalam memainkan clavichord, organ dan komponis. Ia memulai karier profesionalnya sebagai pemain biola dan biola alto dalam orkestra istana di Weimar. Meski demikian, Bach sulit melupakan cintanya kepada organ. Pada masa berikutnya, ia banyak menggubah komposisi untuk musik organ. Pengaruh musik organ Dietrich Buxtehude tidak dapat diabaikan dalam perjalanan karier Bach.
Dasar musik Bach adalah koral Jerman (paduan suara). Koral-koral di zaman Reformasi dalam gereja Lutheran Jerman yang mempengaruhinya, lebih berarah pada penyampaian pesan ketimbang penciptaan suasana hati. Koral-koral itu memuat pengakuan iman yang berdasarkan Alkitab dan bukan sekedar luapan perasaan pribadi.
Bach adalah seorang yang sangat disiplin. Ia mempergunakan kesempatan sebaik-sebaiknya dalam semua peristiwa, baik ataupun buruk, dalam hidupnya. Demikian sekilas pengenalan kita akan Bach. Lain-lain waktu, kita menulis lagi hal yang lain.
Orchestral Suites seringkali disebut sendiri oleh Bach sebagai "ouvertures". Istilah "ouverture" biasanya menunjuk kepada seksi pembukaan yang majestik, suatu gerakan pembukaan dari suatu karya besar, misalnya oratorio. Karya aslinya digubah sekitar 1730 tetapi kemudian dilanjutkan oleh anaknya CPE Bach dan muridnya Johann Ludwig Krebs.
Karya lain yang turut dipentaskan adalah Vivaldi Concerto for Guitar and String Orchestra; Arne Keyboard Concerto No. 5; Schubert Mass No. 2 in G Major; Mendelssohn Singet Dem Herrn Ein Neues Lied.
Conductor dari pementasan ini tidak asing lagi bagi kita yakni Dr. Billy Kristanto, Ph.D, Th.D. Para gurunya antara lain Mitzi Meyerson; Uwe Gronostay (Director of Berlin Philharmonic Choir); Ton Koopman; Stanley Hoogland. Terakhir ia mendalami musikologi di bawah Prof. Silke Leopold yang merupakan ahli Monteverdi, Handel dan Mozart di Universitas Heidelberg, Jerman. Dua disertasinya adalah "Musical Settings of Psalm 51 in Germany ca. 1600-1750 in the Perspectives of Reformational Music Aesthetics" (disertasi Ph.D) dan "Sola Dei Gloria: The Glory of God in the Thought of John Calvin" (disertasi Th.D) yang telah diterbitkan oleh penerbit internasional Peter Lang.
Terdapat 3 paduan suara dalam konser ini: Jakarta Oratorio Society, Reformed Oratorio Society-Singapore dan Medan Oratorio Society. Diiringi oleh Jakarta Symphony Orchestra.
Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.
(Source: buku Karunia Musik dan Wikipedia)
Terdapat beberapa karya besar yang dipentaskan dalam konser ini. Karya pertama adalah komposisi Bach Orchestral Suite No. 3. Karya ini digubah oleh Johann Sebastian Bach. Bach diakui sebagai komponis yang begitu besar dan agung sampai-sampai muncul adagium "Tanpa sadar Bach telah membagi sejarah musik dalam dua periode utama: zaman sebelum Bach dan zaman sesudah Bach. Pada zaman sesudah Bach, kehadirannya tetap dirasakan terus menerus".
Bach dan Handel dianggap sebagai tokoh terbesar zaman Barok (1600-1750). Istilah "Barok" berasal dari kata Portugis "barroco" yang berarti mutiara yang tidak teratur. Istilah "Barok" bukan sekedar menandakan suatu era dalam musik tetapi juga merupakan suatu zaman karena semangat Barok tampak dalam karya-karya non musik antara lain arsitektur dan lukisan (Rembrandt, Rubens, dll). Musik Barok menekankan beberapa ciri antara lain polifonik (banyak suara), kontrapung (counter-point - pergerakan nada yang mandiri/ berlawanan), penuh ornamentasi (detil yang rumit). Komponis Barok yang terkenal selain Bach dan Handel antara lain Schutz, Vivaldi, Rameau dan sebagainya.
Bach lahir dalam keluarga Kristen beraliran Lutheran. Fokus kehidupan spiritual Bach adalah di dalam kekristenan dan pelayanan rohani melalui musik. Bach adalah seorang yang berhutang kepada Tuhan dan terutama Tuhan Yesus sebagai Juruselamat-nya. Keyakinannya akan realitas surga membuat karya-karyanya tak lekang dimakan waktu. Bach menggunakan hidupnya dalam pelayanan musik bagi Allah tanpa menyadari kehebatan karyanya yang luar biasa itu. Motivasi utama Bach dalam menulis musik adalah untuk memuliakan Allah. Motivasi lainnya adalah edifikasi. Motivasi Bach sama seperti tujuan utama ibadah dalam teologi Reformasi: the glorification of God and the edification of the church. Pada halaman judul Bach menuliskan "untuk kemuliaan Allah di tempat yang mahatinggi dan untuk meningkatkan proses belajar setiap orang". Karena motivasi-motivasi ini maka Bach tidak pernah asal-asalan menggubah komposisi. Ia selalu mau menghasilkan komposisi yang terbaik.
Setelah kematian orang tuanya, Bach yang berusia sepuluh tahun tinggal bersama kakak lelakinya Johann Christoph yang telah berguru pada Pachelbel (ingat Canon in D-nya yang sangat terkenal?). Kakaknya adalah seorang guru yang sangat keras. Kakaknya mempunyai satu set komposisi yang tidak boleh dipakai oleh Johann Sebastian sehingga selama 6 bulan di tengah sunyinya malam dengan cahaya terang bulan ia menyalin semua komposisi itu. Sayangnya, inilah yang mungkin menyebabkan kebutaan di kemudian hari.
Setelah kematian kakaknya, Bach mengenyam pendidikan yang berfokus pada instrumen biola dan biola alto. Sebelum berusia 18 tahun, ia telah dikenal sebagai seorang ahli dalam memainkan clavichord, organ dan komponis. Ia memulai karier profesionalnya sebagai pemain biola dan biola alto dalam orkestra istana di Weimar. Meski demikian, Bach sulit melupakan cintanya kepada organ. Pada masa berikutnya, ia banyak menggubah komposisi untuk musik organ. Pengaruh musik organ Dietrich Buxtehude tidak dapat diabaikan dalam perjalanan karier Bach.
Dasar musik Bach adalah koral Jerman (paduan suara). Koral-koral di zaman Reformasi dalam gereja Lutheran Jerman yang mempengaruhinya, lebih berarah pada penyampaian pesan ketimbang penciptaan suasana hati. Koral-koral itu memuat pengakuan iman yang berdasarkan Alkitab dan bukan sekedar luapan perasaan pribadi.
Bach adalah seorang yang sangat disiplin. Ia mempergunakan kesempatan sebaik-sebaiknya dalam semua peristiwa, baik ataupun buruk, dalam hidupnya. Demikian sekilas pengenalan kita akan Bach. Lain-lain waktu, kita menulis lagi hal yang lain.
Orchestral Suites seringkali disebut sendiri oleh Bach sebagai "ouvertures". Istilah "ouverture" biasanya menunjuk kepada seksi pembukaan yang majestik, suatu gerakan pembukaan dari suatu karya besar, misalnya oratorio. Karya aslinya digubah sekitar 1730 tetapi kemudian dilanjutkan oleh anaknya CPE Bach dan muridnya Johann Ludwig Krebs.
Karya lain yang turut dipentaskan adalah Vivaldi Concerto for Guitar and String Orchestra; Arne Keyboard Concerto No. 5; Schubert Mass No. 2 in G Major; Mendelssohn Singet Dem Herrn Ein Neues Lied.
Conductor dari pementasan ini tidak asing lagi bagi kita yakni Dr. Billy Kristanto, Ph.D, Th.D. Para gurunya antara lain Mitzi Meyerson; Uwe Gronostay (Director of Berlin Philharmonic Choir); Ton Koopman; Stanley Hoogland. Terakhir ia mendalami musikologi di bawah Prof. Silke Leopold yang merupakan ahli Monteverdi, Handel dan Mozart di Universitas Heidelberg, Jerman. Dua disertasinya adalah "Musical Settings of Psalm 51 in Germany ca. 1600-1750 in the Perspectives of Reformational Music Aesthetics" (disertasi Ph.D) dan "Sola Dei Gloria: The Glory of God in the Thought of John Calvin" (disertasi Th.D) yang telah diterbitkan oleh penerbit internasional Peter Lang.
Terdapat 3 paduan suara dalam konser ini: Jakarta Oratorio Society, Reformed Oratorio Society-Singapore dan Medan Oratorio Society. Diiringi oleh Jakarta Symphony Orchestra.
Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.
(Source: buku Karunia Musik dan Wikipedia)
Kamis, 09 Januari 2014
Konser 25 Jan. '14: Rachmaninoff Piano Concerto No. 2 & Piano Recital Kevin Suherman
Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan konser pada 25 Januari 2014, yang berfokus pada acara utama seputar pementasan permainan piano. Pianis muda, "new emerging star", Kevin Suherman dipercayakan untuk memegang peranan penting dalam konser kali ini.
Kevin Suherman mulai tampil dalam pementasan permainan piano secara mengejutkan ketika ia memenangkan 2 kompetisi Yamaha di Bandung pada tahun 2004 dan 2005 ketika ia baru berusia 9 tahun. Pada usia 10 tahun, ia memecahkan rekor MURI ketika memainkan 50 lagu klasik, pop dan jazz non stop tanpa skor/ partitur. Pada tahun 2010, Kevin sebagai pianis dari Schimmel Piano, Jerman melakukan rekaman piano solo di Melbourne dan kemudian membuat album Schimmel yang kedua pada tahun 2011. Pada tahun 2013, Kevin memenangkan juara pertama secara nasional pada Australian Youth Classical Music Competition dan juga juara pada Royal South Street Chopin Competition. Pada saat ini ia sedang melanjutkan studi di bawah Prof. Max Cooke dan menyelesaikan studi Bachelor of Music di University of Melbourne, di mana ia menerima beasiswa secara reguler.
Dalam konser kali ini Kevin akan tampil bersama Jakarta Simfonia Orchestra di bawah arahan Dr. Stephen Tong untuk Rachamaninoff Piano Concerto No. 2. Sergei Rachmaninoff (1873-1943) merupakan komponis Rusia yang lahir dalam keluarga berbakat sebagai pianis. Kakeknya adalah seorang pianis terkemuka sedangkan ibunya adalah guru pianonya yang pertama ketika ia mulai belajar pada usia 4 tahun.
Rachmaninoff kemudian belajar di bawah Nikolai Zverev, seorang profesor musik yang luar biasa. Patut diingat, murid Zverev yang lain adalah Alexander Scriabin. Di Moskwa ini, ia mulai mengakhiri kebiasan buruk suka membuang-buang waktu dan bersenang-senang dan mulai dengan serius mempelajari piano. Selama dua tahun belajar di bawah Zverev, ia mengalami kemajuan pesat sebagai pianis, komponis dan ahli musik.
Pada tahun 1892, Rachmaninoff lulus dari konservatori Moskwa dengan penghargaan tertinggi. Dengan suara bulat, Komite memutuskan untuk menghadiahinya nilai tertinggi. Rachmaninoff selalu memukau dalam ingatannya yang luar biasa sampai-sampai rekan-rekannya selalu menyamakannya dengan Mozart muda. Kecepatan Rachmaninoff mengingat komposisi-komposisi baru sangat luar biasa.
Musik Rachmaninoff cenderung termasuk musik abad 19 ketimbang abad 20; ia seorang yang secara tradisional mengikuti jejak Tchaikovsky. Dalam dunia musik, Rachmaninoff merasa ada satu penguasa tertinggi yakni melodi. Ia mengajarkan doktrin keindahan dalam musik.
Piano Concerto No. 2 pada nada C minor merupakan komposisi yang digubah Rachmaninoff pada tahun 1900-1901. Pada tahun 1897, dalam pementasan perdana simfoni yang pertama, Rachmaninoff mendapatkan banyak kritik. Pementasan berlangsung buruk dan dicurigai conductornya memimpin orkestra dalam keadaan mabuk. Hal ini menyebabkan ia mengalami depresi, ditambah dengan persoalan-persoalan pribadinya. Piano Concerto No. 2 yang digubahnya merupakan konfirmasi bahwa ia telah sembuh dari depresi klinis melalui hyphnotherapy. Karena itu, concerto ini dipersembahkan kepada Nikolai Dahl, seorang ahli medis yang berjasa dalam penyembuhannya.
Selain seksi piano concerto, pada seksi recital, Kevin juga akan memainkan Cesar Franck (Prelude, Chorale dan Fugue), Beethoven (Sonata Les Adieux 1st Movement), Chopin Scherzo No. 2 dan La Campanella dari Liszt.
Conductor pada konser ini adalah Dr. Stephen Tong yang dedikasinya untuk perkembangan musik klasik di tanah air tidak bisa diragukan lagi. Beberapa hari setelah operasi by pass pada jantungnya, ia tetap memimpin pementasan orkestrasi untuk karya Franz von Suppe - Light Cavarly Overture.
Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.
(sumber: "Karunia Musik" dan wikipedia)
Kevin Suherman mulai tampil dalam pementasan permainan piano secara mengejutkan ketika ia memenangkan 2 kompetisi Yamaha di Bandung pada tahun 2004 dan 2005 ketika ia baru berusia 9 tahun. Pada usia 10 tahun, ia memecahkan rekor MURI ketika memainkan 50 lagu klasik, pop dan jazz non stop tanpa skor/ partitur. Pada tahun 2010, Kevin sebagai pianis dari Schimmel Piano, Jerman melakukan rekaman piano solo di Melbourne dan kemudian membuat album Schimmel yang kedua pada tahun 2011. Pada tahun 2013, Kevin memenangkan juara pertama secara nasional pada Australian Youth Classical Music Competition dan juga juara pada Royal South Street Chopin Competition. Pada saat ini ia sedang melanjutkan studi di bawah Prof. Max Cooke dan menyelesaikan studi Bachelor of Music di University of Melbourne, di mana ia menerima beasiswa secara reguler.
Dalam konser kali ini Kevin akan tampil bersama Jakarta Simfonia Orchestra di bawah arahan Dr. Stephen Tong untuk Rachamaninoff Piano Concerto No. 2. Sergei Rachmaninoff (1873-1943) merupakan komponis Rusia yang lahir dalam keluarga berbakat sebagai pianis. Kakeknya adalah seorang pianis terkemuka sedangkan ibunya adalah guru pianonya yang pertama ketika ia mulai belajar pada usia 4 tahun.
Rachmaninoff kemudian belajar di bawah Nikolai Zverev, seorang profesor musik yang luar biasa. Patut diingat, murid Zverev yang lain adalah Alexander Scriabin. Di Moskwa ini, ia mulai mengakhiri kebiasan buruk suka membuang-buang waktu dan bersenang-senang dan mulai dengan serius mempelajari piano. Selama dua tahun belajar di bawah Zverev, ia mengalami kemajuan pesat sebagai pianis, komponis dan ahli musik.
Pada tahun 1892, Rachmaninoff lulus dari konservatori Moskwa dengan penghargaan tertinggi. Dengan suara bulat, Komite memutuskan untuk menghadiahinya nilai tertinggi. Rachmaninoff selalu memukau dalam ingatannya yang luar biasa sampai-sampai rekan-rekannya selalu menyamakannya dengan Mozart muda. Kecepatan Rachmaninoff mengingat komposisi-komposisi baru sangat luar biasa.
Musik Rachmaninoff cenderung termasuk musik abad 19 ketimbang abad 20; ia seorang yang secara tradisional mengikuti jejak Tchaikovsky. Dalam dunia musik, Rachmaninoff merasa ada satu penguasa tertinggi yakni melodi. Ia mengajarkan doktrin keindahan dalam musik.
Piano Concerto No. 2 pada nada C minor merupakan komposisi yang digubah Rachmaninoff pada tahun 1900-1901. Pada tahun 1897, dalam pementasan perdana simfoni yang pertama, Rachmaninoff mendapatkan banyak kritik. Pementasan berlangsung buruk dan dicurigai conductornya memimpin orkestra dalam keadaan mabuk. Hal ini menyebabkan ia mengalami depresi, ditambah dengan persoalan-persoalan pribadinya. Piano Concerto No. 2 yang digubahnya merupakan konfirmasi bahwa ia telah sembuh dari depresi klinis melalui hyphnotherapy. Karena itu, concerto ini dipersembahkan kepada Nikolai Dahl, seorang ahli medis yang berjasa dalam penyembuhannya.
Selain seksi piano concerto, pada seksi recital, Kevin juga akan memainkan Cesar Franck (Prelude, Chorale dan Fugue), Beethoven (Sonata Les Adieux 1st Movement), Chopin Scherzo No. 2 dan La Campanella dari Liszt.
Conductor pada konser ini adalah Dr. Stephen Tong yang dedikasinya untuk perkembangan musik klasik di tanah air tidak bisa diragukan lagi. Beberapa hari setelah operasi by pass pada jantungnya, ia tetap memimpin pementasan orkestrasi untuk karya Franz von Suppe - Light Cavarly Overture.
Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.
(sumber: "Karunia Musik" dan wikipedia)
Senin, 30 Desember 2013
Konser 5 Jan. '14: Piano Recital Aileen Gozali
Aula Simfonia Jakarta akan mengadakan pementasan spesial berupa piano recital dari Sdri. Aileen Gozali. Aileen saat ini merupakan murid pada Cleveland Institute of Music, US di bawah arahan Antonio Pompa-Baldi. Ia memulai pementasan piano solo pada usia 12 tahun. Saat ini ia berusia 19 tahun. Ia pernah memenangkan sejumlah kompetisi nasional dan internasional. Antara lain First Prize dalam kategori terbuka pada Young Pianist Competition, Singapore; the Encouragement Award dalam the 8th International Chopin Piano Competition in Asia (Japan); Silver Prize dalam 3rd ASEAN International Chopin Piano Competition (Junior High School Categor) di Kuala Lumpur. Ia juga memperoleh juara ketiga pada IIYM (2010) International Piano Competition, Kansas, US.
Ia akan memainkan beberapa lagu antara lain:
Pertama, Brahms Variation on a Theme of Paganini (Book 1 & 2). Mengenai Brahms pernah dipublikasikan dalam blog ini pada bagian sebelumnya. Karya ini merupakan karya piano yang digubah oleh Brahms pada tahun 1863 berdasarkan pada karya "Caprice No. 24 in A minor" gubahan Niccolo Paganini. Karya ini dikenal karena kedalaman emosional dan tantangan teknik yang sangat tinggi. David Dubal menggambarkan karya ini sebagai "sebuah legenda dalam literatur piano" dan dianggap sebagai salah satu karya yang amat sulit dalam literatur piano (source: wikipedia).
Kedua, Beethoven Sonata No. 30. Mengenai Beethoven pernah dipublikasikan dalam blog ini pada bagian sebelumnya. Komposisi ini digubah sekitar tahun 1820. Komposisi piano ini merupakan bentuk Sonata yakni komposisi yang terdiri dari beberapa gerakan yang dimainkan oleh satu atau dua alat musik. Sonata ini menyapu pendengar dengan karakter musik yang intim dan dramatis. Karya ini juga menampilkan keindahan melodis dan harmonis. Sonata ini terdiri dari 3 gerakan dan pada gerakan ketiga, terdiri dari 6 variasi (source: wikipedia).
Karya lain yang turut dipentaskan adalah Bach Prelude and Fugue No. 9; Schubert Impromptu No. 3 dan Scriabin Sonata No. 4. Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.
Ia akan memainkan beberapa lagu antara lain:
Pertama, Brahms Variation on a Theme of Paganini (Book 1 & 2). Mengenai Brahms pernah dipublikasikan dalam blog ini pada bagian sebelumnya. Karya ini merupakan karya piano yang digubah oleh Brahms pada tahun 1863 berdasarkan pada karya "Caprice No. 24 in A minor" gubahan Niccolo Paganini. Karya ini dikenal karena kedalaman emosional dan tantangan teknik yang sangat tinggi. David Dubal menggambarkan karya ini sebagai "sebuah legenda dalam literatur piano" dan dianggap sebagai salah satu karya yang amat sulit dalam literatur piano (source: wikipedia).
Kedua, Beethoven Sonata No. 30. Mengenai Beethoven pernah dipublikasikan dalam blog ini pada bagian sebelumnya. Komposisi ini digubah sekitar tahun 1820. Komposisi piano ini merupakan bentuk Sonata yakni komposisi yang terdiri dari beberapa gerakan yang dimainkan oleh satu atau dua alat musik. Sonata ini menyapu pendengar dengan karakter musik yang intim dan dramatis. Karya ini juga menampilkan keindahan melodis dan harmonis. Sonata ini terdiri dari 3 gerakan dan pada gerakan ketiga, terdiri dari 6 variasi (source: wikipedia).
Karya lain yang turut dipentaskan adalah Bach Prelude and Fugue No. 9; Schubert Impromptu No. 3 dan Scriabin Sonata No. 4. Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.
Kamis, 05 Desember 2013
Konser 22 Des.'13: Tchaikovsky Nutracker Suite & Handel Messiah Part 1
Konser Natal Aula Simfonia Jakarta akan dipentaskan pada hari Minggu, 22 Desember 2013 dengan menampilkan 3 karya utama selain Christmas Carols. [Untuk youth, diadakan pada Sabtu, 21 Des, Pk. 17.00 dengan acara yang kurang lebih sama].
Pertama, karya Mozart Eine Kleine Nachtmusik. Sebagian ulasan mengenai Mozart pernah dibahas di bagian lain blog ini. Karya Mozart yang dipentaskan kali ini adalah Serenade No. 13 untuk Strings G Major yang digubah pada tahun 1787. Judul "Eine Kleine Nachtmusik" berarti "A Little Night Music" (Sebuah Musik Malam yang Kecil). Mengenai musiknya, Hildesheimer mengatakan "bahkan bila kita mendengarnya di setiap sudut jalan, kualitasnya yang tinggi bersifat tak terbantahkan, suatu bagian musik yang langka, yang tertuang dari pulpen yang cerah dan bahagia (a light but happy pen)". Dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu karya orkestrasi Mozart yang sangat terkenal.
Kedua, Tchaikovsky Nutracker Suite. Peter Ilich Tchaikovsky (1840-1893) merupakan salah satu komponis Rusia yang sangat terkenal. Ia berkata "Sesungguhnya ada alasan untuk menjadi gila kalau saja tidak ada musik". Bakat musik Tchaikovsky sangat langka karena tak ada jejak-jejak musik dalam keluarganya. Ia menuntut ilmu untuk menjadi pengacara dan kemudian menjadi jurutulis di Kementerian Kehakiman tetapi talenta musiknya muncul setelah mendengarkan musik Mozart Don Giovanni. Pada usia 23 tahun ia mendaftarkan diri di Konservatori St. Petersburg yang baru didirikan oleh Anton Rubinstein. Tchaikovsky adalah orang Rusia pertama yang mendapatkan pelatihan sistematis mengenai dasar-dasar musik.
Temperamen Tchaikovsky yang melankolis dan mawas diri tercermin dengan jelas dalam musiknya. Ia menyayangi ibunya dengan segenap kegairahan sebagai seorang anak yang sangat sensitif. Tatkala ibunya meninggal karena kolera pada waktu ia berusia 14 tahun, emosinya sangat terpengaruh. Menenggelamkan diri dalam musik tatkala dirudung kesedihan merupakan pola dalam hidupnya. Ia bahkan menciptakan beberapa balet yang paling riang pada masa mengalami penderitaan batin.
Kehidupannya diwarnai kekerasan dan naluri seksualitas yang tidak normal. Ia tersiksa oleh homoseksualitasnya. Ia juga menderita epilepsi, migrain, insomnia dan serangan depresi. Hidupnya mengandung semua unsur tragedi namun ia tetap menghasilkan musik dengan gairah yang tak terkendali dan kehidupan yang dipenuhi prestasi artistik yang semakin meningkat.
The Nutcracker Suite merupakan balet malam Natal yang mengisahkan tentang seorang gadis kecil yang bermimpi bahwa hadiah alat pemecah kacang-kacangannya telah berubah menjadi seorang pangeran tampan. Tchaikovsky banyak memperoleh penghiburan dalam penderitaan pribadinya dengan menciptakan musik yang riang dan memikat.
Ketiga, George Frideric Handel (1685-1759). Lain-lain waktu, saya akan menulis lebih banyak mengenai Handel dan karya agungnya Mesias. Satu hal yang penting, Handel berbicara sangat sedikit tentang dirinya semasa hidupnya. Fakta pokok tentang hidupnya adalah musiknya. Ia akan bahagia bila mengetahui bahwa musiknya terutama Messiah, membawa sukacita dan kesenangan bagi banyak orang.
Konser kali ini akan dipimpin oleh 2 Conductor yakni Dr. Stephen Tong dan Eunice Tong Holden, M.Mus.
Dr. Stephen Tong adalah seorang otodidak dalam musik dan hampir dikatakan seperti "ensiklopedia musik yang hidup" karena mengenal begitu banyak komponis, karyanya dan pemusik besar dalam sejarah. Dr. Tong memimpin konser dan paduan suara sepanjang hampir tiga per empat hidupnya.
Conductor kedua, Eunice Tong Holden menyelesaikan Bachelor of Arts in Piano Performance di Calvin College, Grand Rapids, USA dan memperoleh gelar Master of Music in Conducting dari Westminster Choir College, Rider University, USA, di mana ia belajar di bawah Joseph Flummerfelt, Tim Brown, Andrew Meggil, Sun Min Lee, dan James Jordan. Ia pernah memenangkan Calvin Concerto Competition pada 2001 dengan memainkan Mendelssohn Piano Concerto in G Minor diiringi oleh Calvin Orchestra. Sebagai anggota dari Paduan Suara terkenal Westminster Symphony Choir, ia bernyanyi di bawah direksi Pierrre Boulez dari Cleveland Orchestra, Sir Colin Davis, Alan Gilbert dari New York Philharmonic dan sebagainya. Ia pernah memimpin 800 lebih anggota paduan suara dalam KKR Jakarta 2011. Ia juga pernah menjadi conductor untuk berbagai konser: Bach Magnificat, Handel Messiah, Mendelssohn Elijah dan sebagainya.
Ada tiga penyanyi dalam konser ini:
Pertama, Cecilia Yap menyelesaikan studi musik di Conservatorio of Santa Cecilia di Roma Italia di bawah soprano terkenal KS Ann Saldarelli dan Lorraine Nawa Jones Marenzi. Setelah itu ia studi di bawah direktur opera yang terkenal, Marcello Ferroni. Ia adalah pemenang dari 7th International Vocal Competition at Cascina, Italia pada tahun 1994 dan merupakan satu-satunya orang Asia dalam putaran final.
Kedua, Joseph Hu, seorang tenor terkenal berdarah Taiwan dan berdomisili di Amerika. Pada waktu ia mementas dalam pagelaran spekatakuler Madama Butterfly bersama San Diego Opera, ia dijuluki, "a first-rate comprimario tenor". Selain San Diego Opera, ia pernah bernanyi dalam Seattle Opera, Dallas Opera, San Antonio Opera, Israeli Opera in Tel Aviv, Michigan Opera, Cleveland Opera, Tulsa Opera, Syracuse Opera, Cincinnati Opera dan sebagainya. Selain itu, ia pernah bernyanyi untuk karya-karya gubahan Bach, Handel, Mozart bersama Tulsa Philharmonic, San Antonio Symphony dan National Symphony of Taiwan. Ia juga pernah bernyanyi di Carnegie Hall sebagai solois tenor dalam karya besar Requiem dari Mozart.
Ketiga, Anna Koor adalah "lyrical-dramatic mezzo-soprano". Ia merupakan salah seorang dari 10 finalis pada World Chinese Vocal Competition (2000). Anna telah mementas di berbagai negara di Asia dan Australia. Pada tahun 2003, ia diundang sebagai juri dalam 29th West Malaysia National Vocal Competition dan Festa Canzone Art Song Competition, Singapore pada tahun 2005 serta Tan Ngiang Ann Memorial Vocal Competition, Singapore pada tahun 2009. Ia pernah bernyanyi di Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru untuk lagu-lagu seperti St. Paul, Elijah, Messiah, Dixit Dominus dari komponis-komponis bergengsi.
Silahkan klik www.aulasimfoniajakarta.com
Pertama, karya Mozart Eine Kleine Nachtmusik. Sebagian ulasan mengenai Mozart pernah dibahas di bagian lain blog ini. Karya Mozart yang dipentaskan kali ini adalah Serenade No. 13 untuk Strings G Major yang digubah pada tahun 1787. Judul "Eine Kleine Nachtmusik" berarti "A Little Night Music" (Sebuah Musik Malam yang Kecil). Mengenai musiknya, Hildesheimer mengatakan "bahkan bila kita mendengarnya di setiap sudut jalan, kualitasnya yang tinggi bersifat tak terbantahkan, suatu bagian musik yang langka, yang tertuang dari pulpen yang cerah dan bahagia (a light but happy pen)". Dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu karya orkestrasi Mozart yang sangat terkenal.
Kedua, Tchaikovsky Nutracker Suite. Peter Ilich Tchaikovsky (1840-1893) merupakan salah satu komponis Rusia yang sangat terkenal. Ia berkata "Sesungguhnya ada alasan untuk menjadi gila kalau saja tidak ada musik". Bakat musik Tchaikovsky sangat langka karena tak ada jejak-jejak musik dalam keluarganya. Ia menuntut ilmu untuk menjadi pengacara dan kemudian menjadi jurutulis di Kementerian Kehakiman tetapi talenta musiknya muncul setelah mendengarkan musik Mozart Don Giovanni. Pada usia 23 tahun ia mendaftarkan diri di Konservatori St. Petersburg yang baru didirikan oleh Anton Rubinstein. Tchaikovsky adalah orang Rusia pertama yang mendapatkan pelatihan sistematis mengenai dasar-dasar musik.
Temperamen Tchaikovsky yang melankolis dan mawas diri tercermin dengan jelas dalam musiknya. Ia menyayangi ibunya dengan segenap kegairahan sebagai seorang anak yang sangat sensitif. Tatkala ibunya meninggal karena kolera pada waktu ia berusia 14 tahun, emosinya sangat terpengaruh. Menenggelamkan diri dalam musik tatkala dirudung kesedihan merupakan pola dalam hidupnya. Ia bahkan menciptakan beberapa balet yang paling riang pada masa mengalami penderitaan batin.
Kehidupannya diwarnai kekerasan dan naluri seksualitas yang tidak normal. Ia tersiksa oleh homoseksualitasnya. Ia juga menderita epilepsi, migrain, insomnia dan serangan depresi. Hidupnya mengandung semua unsur tragedi namun ia tetap menghasilkan musik dengan gairah yang tak terkendali dan kehidupan yang dipenuhi prestasi artistik yang semakin meningkat.
The Nutcracker Suite merupakan balet malam Natal yang mengisahkan tentang seorang gadis kecil yang bermimpi bahwa hadiah alat pemecah kacang-kacangannya telah berubah menjadi seorang pangeran tampan. Tchaikovsky banyak memperoleh penghiburan dalam penderitaan pribadinya dengan menciptakan musik yang riang dan memikat.
Ketiga, George Frideric Handel (1685-1759). Lain-lain waktu, saya akan menulis lebih banyak mengenai Handel dan karya agungnya Mesias. Satu hal yang penting, Handel berbicara sangat sedikit tentang dirinya semasa hidupnya. Fakta pokok tentang hidupnya adalah musiknya. Ia akan bahagia bila mengetahui bahwa musiknya terutama Messiah, membawa sukacita dan kesenangan bagi banyak orang.
Konser kali ini akan dipimpin oleh 2 Conductor yakni Dr. Stephen Tong dan Eunice Tong Holden, M.Mus.
Dr. Stephen Tong adalah seorang otodidak dalam musik dan hampir dikatakan seperti "ensiklopedia musik yang hidup" karena mengenal begitu banyak komponis, karyanya dan pemusik besar dalam sejarah. Dr. Tong memimpin konser dan paduan suara sepanjang hampir tiga per empat hidupnya.
Conductor kedua, Eunice Tong Holden menyelesaikan Bachelor of Arts in Piano Performance di Calvin College, Grand Rapids, USA dan memperoleh gelar Master of Music in Conducting dari Westminster Choir College, Rider University, USA, di mana ia belajar di bawah Joseph Flummerfelt, Tim Brown, Andrew Meggil, Sun Min Lee, dan James Jordan. Ia pernah memenangkan Calvin Concerto Competition pada 2001 dengan memainkan Mendelssohn Piano Concerto in G Minor diiringi oleh Calvin Orchestra. Sebagai anggota dari Paduan Suara terkenal Westminster Symphony Choir, ia bernyanyi di bawah direksi Pierrre Boulez dari Cleveland Orchestra, Sir Colin Davis, Alan Gilbert dari New York Philharmonic dan sebagainya. Ia pernah memimpin 800 lebih anggota paduan suara dalam KKR Jakarta 2011. Ia juga pernah menjadi conductor untuk berbagai konser: Bach Magnificat, Handel Messiah, Mendelssohn Elijah dan sebagainya.
Ada tiga penyanyi dalam konser ini:
Pertama, Cecilia Yap menyelesaikan studi musik di Conservatorio of Santa Cecilia di Roma Italia di bawah soprano terkenal KS Ann Saldarelli dan Lorraine Nawa Jones Marenzi. Setelah itu ia studi di bawah direktur opera yang terkenal, Marcello Ferroni. Ia adalah pemenang dari 7th International Vocal Competition at Cascina, Italia pada tahun 1994 dan merupakan satu-satunya orang Asia dalam putaran final.
Kedua, Joseph Hu, seorang tenor terkenal berdarah Taiwan dan berdomisili di Amerika. Pada waktu ia mementas dalam pagelaran spekatakuler Madama Butterfly bersama San Diego Opera, ia dijuluki, "a first-rate comprimario tenor". Selain San Diego Opera, ia pernah bernanyi dalam Seattle Opera, Dallas Opera, San Antonio Opera, Israeli Opera in Tel Aviv, Michigan Opera, Cleveland Opera, Tulsa Opera, Syracuse Opera, Cincinnati Opera dan sebagainya. Selain itu, ia pernah bernyanyi untuk karya-karya gubahan Bach, Handel, Mozart bersama Tulsa Philharmonic, San Antonio Symphony dan National Symphony of Taiwan. Ia juga pernah bernyanyi di Carnegie Hall sebagai solois tenor dalam karya besar Requiem dari Mozart.
Ketiga, Anna Koor adalah "lyrical-dramatic mezzo-soprano". Ia merupakan salah seorang dari 10 finalis pada World Chinese Vocal Competition (2000). Anna telah mementas di berbagai negara di Asia dan Australia. Pada tahun 2003, ia diundang sebagai juri dalam 29th West Malaysia National Vocal Competition dan Festa Canzone Art Song Competition, Singapore pada tahun 2005 serta Tan Ngiang Ann Memorial Vocal Competition, Singapore pada tahun 2009. Ia pernah bernyanyi di Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru untuk lagu-lagu seperti St. Paul, Elijah, Messiah, Dixit Dominus dari komponis-komponis bergengsi.
Silahkan klik www.aulasimfoniajakarta.com
(sumber: buku Karunia Musik dan Wikipedia serta sumber-sumber otoritatif lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu).
Rabu, 13 November 2013
Konser 30 Nov. '13: Beethoven Piano Concerto No. 4 & Brahms Symphony No. 1
Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan pementasan spektakuler pada 30 November 2013 ini. Ada dua karya besar yang ditampilkan yakni Beethoven Piano Concerto No. 4 dan Brahms Symphony No. 1. Kita akan melihat sekilas mengenai 2 tokoh dan karyanya ini.
Pertama, Beethoven Piano Concerto No. 4. Karya ini digubah oleh Ludwig van Beethoven (1770-1827), seorang komponis yang percaya bahwa "kebebasan di atas segalanya". Ia menjadi legenda pada masa hidupnya dan keberadaannya mendominasi keseluruhan musik abad ke 19. Beethoven nyaris memuja Goethe, seorang penulis Jerman yang paling terkenal. Seperti si jenius di bidang sastra itu, Beethoven meyakini bahwa seniman memiliki tugas untuk mengungkapkan kegalauan sekaligus kedamaian dalam diri seseorang dan untuk mencari kesempurnaan orang itu sendiri.
Musik Beethoven penuh dengan kontras-kontras yang tajam. Renoir, pelukis asal Prancis, mengamati bahwa Beethoven "sangat tidak sopan dalam caranya mengungkapkan diri kepada orang lain; ia tidak mengecualikan kita dari sakit jantungnya dan sakit perutnya". Musik Beethoven memiliki energi luapan perasaan yang menggila. Musiknya terdengar meletup-letup dan mengundang luapan kegembiraan yang sangat besar dan kemudian tiba-tiba meleleh dalam kelembutan dan kesedihan, lalu kembali meledak dalam kedahsyatan. Ini merupakan pencurahan langsung dari kepribadiannya.
Sebuah review pada bulan Mei 1809 dalam edisi "Allgemeine musikalische Zeitung" menyatakan bahwa Piano Concerto No. 4 yang digubah Beethoven pada 1805-1806 ini merupakan suatu concerto yang paling dikagumi, paling unggul, paling artistik, paling kompleks yang pernah digubah oleh Beethoven" (the most admirable, singular, artistic, and complex Beethoven concerto ever).
Kedua, Brahms Symphony No. 1. Karya ini digubah oleh Johannes Brahms (1833-1897). Symphony yang berdurasi 50 menit ini, menurut Brahms sendiri, ditulis selama 21 tahun, mulai dari sketsa sampai selesai dengan tuntas. Ada dua kemungkinan mengapa hal ini bisa terjadi. Pertama, Brahms adalah seorang yang bersikap sangat kritis terhadap karya-karyanya sendiri sehingga menghilangkan banyak not yang tidak perlu. Hasilnya, ia secara konsisten menelurkan banyak komposisi yang bermutu tinggi. Namun, dampak lain adalah Brahms menjadi orang yang tidak mudah menggubah suatu karya.
Kemungkinan kedua, ada harapan/ ekspektasi dari kawan-kawan Brahms dan publik bahwa ia dapat meneruskan warisan Beethoven untuk menghasilkan karya simfonia dengan derajat yang tinggi dan skop intelektual yang luas. Harapan ini menyebabkan Brahms tidak mudah menghasilkan karya simfonia, mengingat reputasi monumental dari Beethoven.
Piano concerto akan dimainkan oleh pianis handal dari Taiwan, Shu-Wen Chuang dan diiringi oleh Jakarta Simfonia Orchestra yang dipimpin oleh Dr. Stephen Tong. Ms. Chuang merupakan seorang pianis yang sering mementas di Taiwan National Concert Hall. Ia baru saja memainkan piano recital di tempat yang bergengsi itu di Taiwan.
(bahan-bahan ini dicuplik dan diolah dari Jane Stuart Smith & Betty Carlson, "Karunia Musik" [Surabaya: Momentum] dan en.wikipedia.org. Pembaca dapat membeli buku tersebut untuk membaca sejarah dan penjelasan yang komprehensif dari komponis-komponis agung dalam sejarah. Masih banyak hal yang tidak mungkin dimuat dalam blog ini)
Pertama, Beethoven Piano Concerto No. 4. Karya ini digubah oleh Ludwig van Beethoven (1770-1827), seorang komponis yang percaya bahwa "kebebasan di atas segalanya". Ia menjadi legenda pada masa hidupnya dan keberadaannya mendominasi keseluruhan musik abad ke 19. Beethoven nyaris memuja Goethe, seorang penulis Jerman yang paling terkenal. Seperti si jenius di bidang sastra itu, Beethoven meyakini bahwa seniman memiliki tugas untuk mengungkapkan kegalauan sekaligus kedamaian dalam diri seseorang dan untuk mencari kesempurnaan orang itu sendiri.
Musik Beethoven penuh dengan kontras-kontras yang tajam. Renoir, pelukis asal Prancis, mengamati bahwa Beethoven "sangat tidak sopan dalam caranya mengungkapkan diri kepada orang lain; ia tidak mengecualikan kita dari sakit jantungnya dan sakit perutnya". Musik Beethoven memiliki energi luapan perasaan yang menggila. Musiknya terdengar meletup-letup dan mengundang luapan kegembiraan yang sangat besar dan kemudian tiba-tiba meleleh dalam kelembutan dan kesedihan, lalu kembali meledak dalam kedahsyatan. Ini merupakan pencurahan langsung dari kepribadiannya.
Sebuah review pada bulan Mei 1809 dalam edisi "Allgemeine musikalische Zeitung" menyatakan bahwa Piano Concerto No. 4 yang digubah Beethoven pada 1805-1806 ini merupakan suatu concerto yang paling dikagumi, paling unggul, paling artistik, paling kompleks yang pernah digubah oleh Beethoven" (the most admirable, singular, artistic, and complex Beethoven concerto ever).
Kedua, Brahms Symphony No. 1. Karya ini digubah oleh Johannes Brahms (1833-1897). Symphony yang berdurasi 50 menit ini, menurut Brahms sendiri, ditulis selama 21 tahun, mulai dari sketsa sampai selesai dengan tuntas. Ada dua kemungkinan mengapa hal ini bisa terjadi. Pertama, Brahms adalah seorang yang bersikap sangat kritis terhadap karya-karyanya sendiri sehingga menghilangkan banyak not yang tidak perlu. Hasilnya, ia secara konsisten menelurkan banyak komposisi yang bermutu tinggi. Namun, dampak lain adalah Brahms menjadi orang yang tidak mudah menggubah suatu karya.
Kemungkinan kedua, ada harapan/ ekspektasi dari kawan-kawan Brahms dan publik bahwa ia dapat meneruskan warisan Beethoven untuk menghasilkan karya simfonia dengan derajat yang tinggi dan skop intelektual yang luas. Harapan ini menyebabkan Brahms tidak mudah menghasilkan karya simfonia, mengingat reputasi monumental dari Beethoven.
Piano concerto akan dimainkan oleh pianis handal dari Taiwan, Shu-Wen Chuang dan diiringi oleh Jakarta Simfonia Orchestra yang dipimpin oleh Dr. Stephen Tong. Ms. Chuang merupakan seorang pianis yang sering mementas di Taiwan National Concert Hall. Ia baru saja memainkan piano recital di tempat yang bergengsi itu di Taiwan.
(bahan-bahan ini dicuplik dan diolah dari Jane Stuart Smith & Betty Carlson, "Karunia Musik" [Surabaya: Momentum] dan en.wikipedia.org. Pembaca dapat membeli buku tersebut untuk membaca sejarah dan penjelasan yang komprehensif dari komponis-komponis agung dalam sejarah. Masih banyak hal yang tidak mungkin dimuat dalam blog ini)
Langganan:
Postingan (Atom)