Selasa, 04 Juni 2019

Saint Saens - Carnival of the Animals (ASJ 22 Juni 2019)



Camille Saint Saens (1835-1921) yang lahir di Paris, bertumbuh sebagai seorang anak yang cerdas dan sangat berbakat musik. Usia 3 tahun ia telah menggubah komposisi musiknya yang pertama. Usia 10 tahun ia sudah bisa memainkan 32 sonata Beethoven dengan menghafal seluruhnya.

Betty Carlson berkata, "Pikirannya merupakan pikiran musikal yang mengagumkan. Ia memiliki terlalu banyak kemampuan dengan kualitas yang sama."

"Saint Saens adalah komponis yang menggubah dalam setiap jenis musik, seorang musikolog yang sangat baik dan seorang kritikus yang bersemangat dengan rasa humor yang menusuk. Ia juga mengarang puisi dan berminat dalam astronomi dan arkeologi."

Pada tahun 1878 ia kehilangan ke dua puteranya. Yang sulung, usia 2,5 tahun jatuh dari jendela dan meninggal. Yang bungsu meninggal tak lama sesudah itu. Ia menyalahkan istrinya atas kematian anak-anaknya, dan tiga tahun kemudian ia meninggalkan isterinya. Mereka tak pernah bertemu kembali.

Komposisi The Carnival of the Animals ditulis pada tahun 1886. Menyusul sebuah kegagalan tur  konser di Jerman, ia mengundurkan diri ke sebuah desa di Austria. Di sini, ia menulis komposisi ini.

Awalnya Saint Saens tidak mengijinkan komposisi ini dipentaskan secara publik karena akan merusak imagenya sebagai komponis serius. Ia hanya mengijinkan musik cello The Swan yang melodinya sangat terkenal itu untuk dipentaskan. Karena itu, komposisi ini hanya dipentaskan secara privat dan disaksikan kalangan terbatas termasuk teman baiknya Franz Liszt.

Setelah kematiannya, komposisi ini dipublikasikan secara luas. Bahkan mau tidak mau, komposisi yang ditulisnya "kurang serius" justru merupakan komposisi yang paling menarik dan paling terkenal dari Saint Saens. Betty Carlson mengatakan, "Secara menyindir, karya ini merupakan salah satu lelucon musikal yang terbaik, yang diorkestrasi dengan luar biasa. Karya ini penuh dengan humor yang menjadi bagian dari tradisi Prancis".

Karya ini ditulis untuk dua piano dan orkestra dengan 14 gerakan. Gerakan pertama adalah "Introduction and Royal March of Lion". Yang paling terkenal adalah The Swan yang dimainkan dengan cello dan dua piano. Kita masih akan menemukan musik gajah, ikan, ayam dan seterusnya".

Pementasan komposisi ini akan dilakukan di Aula Simfonia Jakarta pada 22 Juni 2019. Anak-anak kita pasti senang menyaksikannya.

(Sumber: Buku "Karunia Musik" dan Wikipedia)

Rabu, 17 April 2019

Bach Mass in B Minor (ASJ 20 April 2019)


Adalah hal yang aneh bahwa seorang komponis Lutheran bisa menulis sebuah misa yang biasa dinyanyikan di gereja Katolik. Motivasi Bach masih menjadi perdebatan di antara para ahli hingga kini. Karya ini tidak pernah dipentaskan sepanjang hidup Bach.

Mengenai pentingnya karya ini, Alberto Basso menyimpulkan, "Mass in B Minor adalah pengabdian seluruh hidup: dimulai dari tahun 1733 utk alasan alasan "diplomatis", dan baru diselesaikan pada tahun tahun terakhir hidupnya, ketika Bach sudah menjadi buta. Karya monumental ini merupakan sintesis dari setiap kontribusi stylistic dan technical yang dibuat Bach bagi musik. Tetapi karya ini juga merupakan pergulatan spiritual luar biasa antara dunia pemuliaan Katolik dan penyembahan Lutheran akan salib Kristus".

Para ahli umumnya mengganggap bahwa karya ini merupakan kesimpulan dari pergumulan mendalam Bach sepanjang hidup dengan tradisi musik dan dalam kasus ini dengan setting paduan suara dan teologi.

Pada tahun 1733, raja Polandia Augustus II meninggal. Selama 5 bulan masa berkabung, tidak ada karya musik publik yang dibuat. Bach memakai kesempatan ini utk menulis misa ini, suatu liturgi yang dinyanyikan dalam bahasa Latin dan yang umum bagi tradisi Katolik. Bach ingin mendedikasikan karya ini kepada raja Augustus III, seorang Katolik dengan harapan agar dapat diangkat menjadi komposer istana. Ini yang dimaksudkan dengan motivasi "diplomasi" seperti yang dikatakan Basso di atas. Ada kemungkinan, Kyrie dalam lagu ini ditujukan sebagai musik ratapan atas kematian raja Augustus II dan Gloria sebagai musik selebrasi bertahtanya raja Augutus III.

Karya tidak lengkap dari Mass ini dipentaskan 36 tahun setelah kematian Bach yakni pada tahun 1786 dipimpin oleh CPE Bach, anak dari JS Bach. Karya lengkap baru dipentaskan pada tahun 1859 di Leipzig, 100 tahun setelah Bach meninggal. (Courtesy: wikipedia)

Mari menyaksikan konser Paskah ini.

Jumat, 01 Februari 2019

Oratorio Creation - Joseph Haydn (ASJ - 16 Feb 2019)

Oratorio Creation ditulis oleh Joseph Haydn pada 1797-1798 setelah mendengar pementasan oratorio-oratorio besar GF Handel di London pada periode 1791-1792 &1794-1795. Di antaranya, oratorio Handel Israel in Egypt yang memberikan inspirasi bagi Haydn untuk menggunakan teknik Word Painting/ Tone Painting di mana nada sejalan dengan kata-kata.

Pementasan perdana oratorio ini tahun 1798 sebenarnya merupakan konser privat tetapi ratusan orang menjejali di jalanan depan Schwarzenberg Palace (di Vienna), untuk turut mendengarkan konser ini. Konser publik perdana di Vienna pada 1799 sangat diterima baik di mana tiket sudah laku terjual jauh sebelumnya. Oratorio yang teksnya diambil dari Kitab Mazmur, Kitab Kejadian dan buku John Milton Paradise Lost ini pernah dipentaskan sekitar 40 kali di kota Vienna sepanjang hidup Haydn.

Dalam pementasan terakhir setahun sebelum Haydn meninggal, di mana dalam keadaan sakit dan tua ia menghadiri konser tersebut. Ketika tiba pada bagian di mana terang muncul dengan kontras yang begitu besar, penonton serentak memberikan tepuk tangan yang meriah. Haydn saat itu berkata sambil menunjuk ke atas: "Bukan adri saya. Semuanya datang dari Atas".
(Courtesy: Wikipedia)

Mari menyaksikan sekali lagi pementasan karya akbar Joseph Haydn di Aula Simfonia Jakarta pada Sabtu, 16 Februari 2019, Pk. 17.00.

Rabu, 28 Januari 2015

Konser 14 Feb. '15: Rachmaninoff dan Beethoven

Terdapat dua karya besar yang dipentaskan dalam konser Aula Simfonia Jakarta kali ini yakni Rachmaninoff Piano Concerto No. 3 dan Beethoven Symphony No. 5.

Rachmaninoff menyusun konserto ini dan menyelesaikannya pada 23 September 1909. Konserto ini dihargai bahkan ditakuti oleh banyak orang. Josef Hofmann, pianis yang mana karya ini ditujukan kepadanya, sendirinya tidak pernah memainkan karya ini secara publik dan mengaku bahwa karya ini sebenarnya bukan untuknya. Pianis lainnya, Gary Graffman, meratap, bahwa ia tidak pernah belajar konserto ini selama ia menjadi pelajar, yaitu masa di mana "ia masih terlalu muda untuk mengenal ketakutan". Konserto ini baru dipentaskan pertama kali pada 28 November 1909 oleh Rachmaninoff sendiri diiringi oleh New York Symphony Society dan dipimpin oleh Walter Damrosch.

Manuskrip lagu ini baru dipublikasikan pada tahun 1910. Rachmaninoff sendiri beranggapan bahwa konserto ketiga merupakan favoritnya dibandingkan konserto yang lain. Katanya, "I much prefer the Third, because my Second is so uncomfortable to play". Pianis Vladimir Horowitz lah yang mempopulerkan konserto ketiga ini.

Jane S. Smith dan Bety Carlson mengatakan bahwa konserto ketiga adalah konserto yang sangat indah tetapi sangat sulit. Rachmaninoff menulis karya ini di tengah persiapannya untuk pertunjukan di Amerika dalam tur yang pertama. Ia bekerja delapan jam sehari untuk latihan teknik dan bangun pagi-pagi serta memanfaatkan waktu dengan baik. Orang-orang Rusia seringkali adalah pekerja yang sangat keras. Rachmaninoff benar-benar adalah seorang Rusia. Siapa pun yang mencoba memainkan salah satu komposisi pianonya akan menyadari jari-jarinya yang terampil, kekuatan dalam musiknya dan lebarnya jarak rentang dari tangannya yang besar. Ia dapat menjangkau dua belas nada. Tak peduli di manapun ia tampil, bahkan seandainya tampil dalam gedung yang hampir kosong sekalipun, ia selalu memberikan yang terbaik.

Pianis yang bermain untuk konser kali ini adalah Kevin Suherman yang pada bulan Januari tahun lalu, memainkan konserto keduanya Rachmaninoff.

Karya kedua adalah Beethoven Symphony No. 5. Karya ini mulai digubah oleh Beethoven pada tahun 1804. Karya ini baru diselesaikan pada tahun 1807-1808, di mana di dalam penulisannya, diinterupsi oleh penulisan karya lain. Karya ini juga diselesaikan hampir bersamaan dengan Simfoni No. 6 yang kemudian dipentaskan bersama-sama. Jane S. Smith dan Bety Carlson mengatakan bahwa Symphony No. 5 merupakan pelukisan musikal tentang perjuangan Beethoven dengan ketulian. Seperti halnya Goethe, Beethoven percaya akan nasib yang kejam. E.T.A Hoffman menyebut karya ini sebagai "indescribably profound, magnificent symphony in C minor". Karya ini telah mempengaruhi Brahms, Tchaikovsky, khususnya symphony no. 4, Mahler, Berlioz dan lain sebagainya.

Konser kali ini didireksi oleh Dr. Stephen Tong.

Silahkan hubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.

(sumber: wikipedia.org dan buku "Karunia Musik" Terbitan Momentum)

Minggu, 21 September 2014

Konser 27 Sept. '14: Beethoven Symphony No. 6

Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan pementasan akbar pada 27 September 2014. Salah satu karya yang dimainkan adalah Symphony No. 6 dari L. v Beethoven.

The Symphony No 6 di F mayor, Op. 68, juga dikenal sebagai Pastoral Symphony (Jerman Pastoral-Sinfonie), adalah sebuah simfoni disusun oleh Ludwig van Beethoven, dan selesai pada 1808.

Beethoven adalah seorang pecinta alam yang menghabiskan banyak waktunya di jalan-jalan di negara itu. Dia sering meninggalkan Wina untuk bekerja di pedesaan. Beethoven mengatakan bahwa Symphony keenam bersifat memiliki "perasaan yang lebih ekspresif dari lukisan".

Simfoni ini menggunakan instrumen piccolo (gerakan keempat saja), 2 seruling, 2 oboe, 2 klarinet dalam B flat, 2 bassoon, 2 horn di F dan B flat, 2 terompet di C dan E flat (ketiga, keempat, dan kelima gerakan saja), 2 trombon (alto dan tenor, gerakan keempat dan kelima saja), timpani (gerakan keempat saja), dan string.

Simfoni ini memiliki lima gerakan, bukan empat gerakan sebagaimana khas  simfoni dari era klasik.

Beethoven menulis catatan deskriptif singkat di kepala masing-masing gerakan.
Gerakan pertama, Allegro ma non troppo: perasaan ceria pada saat kedatangan di pedesaan. Simfoni dimulai dengan gerakan tenang dan ceria yang menggambarkan perasaan sang komposer saat ia tiba di negeri ini. Karya ini dalam bentuk sonata, dan motif yang secara luas dikembangkan. Pada beberapa titik Beethoven membangun tekstur orkestra oleh beberapa pengulangan motif yang sangat singkat.

Gerakan kedua, Andante molto Mosso: gerakan ini, diberi judul oleh Beethoven "Oleh sungai". Pada pembukaan senar memainkan motif yang jelas meniru air yang mengalir. Menjelang akhir gerakan ada cadenza untuk instrumen musik tiup kayu yang meniru panggilan burung. Beethoven membantu mengidentifikasi jenis burung dalam skor: burung bulbul (flute), puyuh (oboe), dan cuckoo (dua klarinet).

Gerakan ketiga, Allegro: pertemuan penuh damai oleh rakyat negeri setempat. Ini adalah bagian  scherzo, yang menggambarkan tarian rakyat negeri  dan menikmatinya.

Gerakan keempat, Allegro: guntur dan badai. Gerakan keempat, di F minor, menggambarkan badai keras dengan realisme telaten, dimulai dengan gambaran hanya beberapa tetes hujan dan mencapai klimaks besar dengan guntur, petir, angin kencang, dan hujan deras. Badai akhirnya berlalu, dengan gemuruh sesekali guntur masih terdengar di kejauhan.

Gerakan kelima, Allegretto: "Lagu Gembala. Perasaan bahagia dan bersyukur setelah badai".

Konser akan didireksi oleh Dr. Stephen Tong dan Dr. Billy Kristanto dengan Jakarta Simfonia Orchestra. Silahkan menghubungi www.aulasimfoniajakarta.com untuk ticketing.

(materi tentang Symphony no 6 berasal dari Wikipedia.org)

Rabu, 13 Agustus 2014

Konser 30 Ags. '14: Bach, Rachmaninoff, Dvorak

Aula Simfonia Jakarta kembali mementaskan 3 karya besar pada 30 Agustus 2014.

Pertama, Bach Keyboard Concerto No. 1 in D Minor (Played on Organ). Mengenai Johan Sebastian Bach, saya sudah pernah membahasnya dalam artikel yang lalu. Pada tahun 1729-1741, Bach ditugaskan sebagai direktur pada "Collegium Musicum" di Leipzig, suatu kelompok musik untuk mahasiswa yang didirikan oleh Georg Philipp Telemann pada 1703. Kelompok ini sering mementas di kedai kopi Zimmermann. Selama periode inilah Bach menuli karya-karya konsert harpsichord. Karya-karya ini dianggap sebagai karya-karya awal dari instrumen keyboard yang pernah ditulis. Karya Concerto No. 1 merupakan karya paling terkenal dari seri konserto ini. Felix Mendelssohn pernah mementaskan karya ini. Dr. Billy Kristanto akan memainkan seksi organ-nya dengan diiringi oleh Jakarta Simfonia Orchestra.

Kedua, Rachmaninoff's Rhapsody on a Theme of Paganini. Mengenai Rachmaninoff, saya sudah pernah menulisnya dalam artikel yang lalu. Karya ini merupakan karya solo piano dan orkestra dan ditutup dengan bagian piano concerto. Karya ini digubah dari tanggal 3 Juli sampai 18 Agustus 1934 berdasarkan kepada karya Nicollo Paganini untuk biola solo. Variasi yang paling terkenal adalah Variasi 18. Kita bisa mendengarkan Rubinstein memainkan variasi ini.

Ketiga, Dvorak's Cello Concerto in B Minor. Karya ini ditulis untuk rekannya Hanus Wihan pada tahun 1894-1895.

Konser kali ini akan didireksi oleh Dr. Stephen Tong dan Dr. Billy Kristanto.

Silahkan menghubungi www.aulasimfoniajakarta.com untuk ticketing.

Kamis, 19 Juni 2014

Konser 21 Jun. '14: Opera Carmen, La Traviata & Turandot

Aula Simfonia Jakarta mementaskan opera yang pertama dan memainkan cuplikan dari tiga opera besar yakni Carmen, La Traviata dan Turandot. Kita akan melihat cuplikan ketiganya di sini.

La Traviata ditulis oleh komponis Italia Giuseppe Verdi (1813-1901) pada tahun 1853. Verdi merupakan komponis Italia yang amat penting. Selama periode 1842-1893, lebih dari 50 tahun, karya-karya Verdi begitu mendominasi opera Italia. Gaya, estetika dan filsafatnya jauh berbeda dari Wagner, suatu hal yang mencerminkan perbedaan antara kebudayaan Italia dan Jerman. Namun, seperti Wagner, ia juga seorang pembawa inovasi dan ia selalu memperlihatkan suatu komitmen pada sintaksis aksi di pentas, libretto dan musik.

Suatu hal yang penting pada masa penulisan opera-opera Verdi adalah hubungan dengan Giuseppina Strepponi (setelah istrinya pertamanya meninggal pada tahun 1840). Strepponi adalah seorang penyanyi sopran. Ia bertemu dengan Verdi pada tahun 1847 di Paris, jatuh cinta dan kemudian tinggal bersama. Pada waktu mereka kembali ke Busseto (tempat kelahiran Verdi di Italia Utara), mereka menjadi buah bibir. Seluruh cerita tentang hubungan cintanya dengna Strepponi merupakan latar belakang yang menarik pada opera La Traviata, yang berpusat pada tema cinta.

Opera Turandot digubah oleh komponis Italia yang lain, Giacomo Puccini (1858-1924) sekitar tahun 1920an. Puccini memutuskan menjadi komponis opera setelah mendengar pertunjukan opera Aida karya Verdi. Opera ini tidak keburu diselesaikan oleh Puccini karena meninggal tetapi Franco Alfano meneruskannya hingga selesai dan dipentaskan pertama kali di La Scala, Milano pada 25 April 1925. Opera Turandot adalah cerita cinta yang berlatar Tiongkok Kuno, tentang hubungan percintaan Putri Turandot.

Opera Carmen adalah opera yang digubah oleh komponis Prancis Georges Bizet. Opera ini berfokus kepada elemen-elemen baru yang kontroversial dalam sejarah opera Prancis. Antara lain: kehidupan proletar (kelompok miskin dalam kamus Marxis), imoralitas dan hidup tanpa hukum serta kematian tragis. Musik dari Carmen memperlihatkan kebrilianan melodi, harmoni dan atmosfir dan orkestrasi.

Karya-karya ini akan dipentaskan oleh Jakarta Oratorio Society dan Jakarta Simfonia Orchestra di bawah direksi Eunice Tong Holden dan Rebecca Tong serta empat penyanyi yang pernah mementas: Cecilia Yap, Anna Koor, Noel Azcona, Jae Wook Lee. Biografi mereka dapat dibaca di Blog Musik Klasik Itu Indah. Rebecca baru saja diterima dalam program doktor di College-Conservatory of Music, University of Cincinnati, USA.

Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.

(sumber: Rhoderick J. McNeill, "Sejarah Musik 2" dan wikipedia)

Senin, 12 Mei 2014

Konser 14 Mei '14: Wilson Hermanto, Linus Roth & Beethoven

Wilson Hermanto adalah conductor kelahiran Indonesia. Ia pernah tampil memimpin Orchestre National de Lyon, London Philharmonic Orchestra, Prague Symphony Orchestra, Orchestre National du Capitole de Toulouse, Orchestre de Chambre de Paris, juga Schleswig-Holstein Festival Orchestra dalam kolaborasi bersama pianis terkenal sejagad, Lang-Lang. Ia juga pernah mementas bersama Orchestre Philharmonique de Radio France, Ulster Orchestra in Belfast, Symphony Silicon Valley di San Jose dan Orquesta Filarmonica de Bogota di Kolombia. Ia pernah menjadi asisten conductor dari Franz Welser-Most. Silahkan mengunjungi http://wilsonhermanto.fr.

Pemain biola Linus Roth pernah bermain biola bersama Radio Symphoy Orchestras Berlin, Bruckner Orchester Linz, Orquesta de Cordoba, Orquesta de Navarra, Orquesta della Teatro San Carlo Napoli, Royal Liverpool Philharmonic, Berner Sinfonieorchester, Orchestra of the State Opera Stuttgart, Vienna Chamber Philharmonic, dl. Silahkan mengunjungi http://www.linusroth.com.

Kedua pemusik ini akan tampil bersama Jakarta Simfonia Orchestra menampilkan karya-karya Beethoven yang penting antara lain Violin Concerto in D Major dan Symphony No. 2 in D Major.

Silahkan menghubungi http://www.aulasimfoniajakarta.com untuk ticketing konser 14 Mei 2014.

Selasa, 15 April 2014

Konser 19 Apr. '14: Handel Messiah Part II & III

Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan konser Paskah pada Sabtu, 19 April 2014. Konser kali ini memainkan dua karya besar. Yang pertama adalah melanjutkan konser bulan sebelumnya yakni menyelesaikan karya agung Antonio Vivaldi "The Four Seasons" bagian Autumn dan Winter.

Karya besar yang kedua adalah karya George Frideric Handel (1685-1759) "Messiah". Handel senantiasa tertarik kepada melodi dan suara yang indah (eufoni) - standar kesempurnaan Latin yang tertinggi. Ia tetap memakainya sepanjang hidupnya. Tak ada orang Jerman yang dapat mengunggulinya dalam menulis melodi-melodi yang indah. Namun kita harus menyatakan yang sebenarnya bahwa zaman Barok merupakan zaman kebesaran musik Protestan, dan tentunya kita tahu bahwa budaya Protestan berakar dalam Alkitab.

Sedikit orang menyadari ketegangan dan kedalaman emosinya dalam luapan sukacita, kemarahan, antusiasme, atau kesedihan yang besar. Manakala Handel menciptakan Messiah yang diselesaikan dalam waktu 24 hari tanpa sesaatpun meninggalkan rumah, pembantunya membawakan makanan untuknya, namun makanan itu seringkali tidak disentuhnya. Saat mengerjakan "Hallelujah Chorus", pembantunya mendapati Handel berurai air mata. Handel berseru, "Aku rasa aku benar-benar meilhat seluruh sorga di hadapanku dan bahkan Allah sendiri!".

Handel menciptakan Messiah pada tahun 1741 saat berusia 56 tahun. Sebagaimana yang diamati oleh Newman Flower, "Mengingat kebesaran karya itu, dan waktu yang singkat dalam menuliskannya, maka karya tersebut akan tetap, barangkali untuk selamanya, menjadi prestasi terbesar dalam keseluruhan sejarah komposisi musik."

Bagian kedua dari Messiah menampilkan lagu-lagu berkaitan dengan penderitaan Kristus, kematian, kebangkitan, juga kenaikan ke surga. Hallelujah Chorus yang merupakan bagian dari kemenangan Allah juga ditampilkan pada bagian akhir Part II. Part III dimulai dengan soprano yang sangat terkenal, emosional tetapi meyakinkan "I know that my Redeemer liveth". Karya ini diakhiri dengan nyanyian pujian dari kitab Wahyu "Worthy is the Lamb" dan "Amen Chorus" yang dinyanyikan oleh Jakarta Oratorio Society.

Konser kali ini didireksi oleh konduktor Dr. Stephen Tong. Terdapat beberapa penyanyi dalam konser kali ini. Anna Koor dan Cecilia Yip pernah beberapa kali tampil di ASJ.

Tenor yang ditampilkan dalam konser kali ini adalah tenor Korea Selatan Jae Wook Lee. Lee merupakan penyanyi opera yang pernah tampil di berbagai negara di dunia antara lain Italia, Singapura, Ekuador dan Filipina. Ia juga pernah tampil sebagai penyanyi resital dan solois di Jerman, Jepang, Amerika Selatan dan China. Ia belajar vocal di Hanyang University, Seoul dan kemudian di Orfeo International Vocal Music Academy, Italia. Ia pernah dianugerahi "The First Prize winner dalam The National Vocal Music Competition di Korea dan memenangkan beberapa kompetisi internasional.

Bariton yang mementas dalam konser kali ini adalah Noel Azcona. Ia pernah tampil dalam konser di ASJ pada tahun 2011 di bawah direksi Dr. Stephen Tong. Ia pernah tampil dalam 10 tur konser dunia sebagai asisten konduktor dan solois di berbagai kota penting di Eropa, Amerika Serikat, Meksiko, Kanada dan Asia.

Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.

(sumber: buku "Karunia Musik" dan wikipedia.org)

Selasa, 04 Maret 2014

Konser 23 Mar. '14: Vivaldi The Four Seasons

Aula Simfonia Jakarta dengan arahan conductor Dr. Stephen Tong dan Dr. Billy Kristanto bersama Jakarta Simfonia Orchestra akan mementaskan karya besar The Four Seasons yang digubah oleh komponis Italia Antonio Vivaldi.

Antonio Vivaldi (1678-1741) dilahirkan dalam keluarga musik di mana ayahnya seorang pemain biola terkemuka. Vivaldi mengawali pendidikan menjadi imam tetapi kemudian ia beralih menjadi musikus. Ia telah ditahbiskan menjadi pastor pada tahun 1703 tetapi karena kondisi kesehatannya, ia dibebaskan dari tugas itu dan seumur hidupnya mengabdikan diri dalam pelayanan musik.

Vivaldi meninggal dalam kemiskinan dan tanpa kemahsyuran, karena tak ada yang tahu di mana kuburnya. Musiknya tak dikenal, dilupakan dalam perpustakaan umum maupun pribadi. Musik Vivaldi yang terasa hidup itu akan dilupakan selamanya bila Bach tidak membuat salinan beberapa karyanya. Bach diketahui telah menyalin setidaknya sembilan concerto Vivaldi.

Semakin banyak sarjana mengakui Vivaldi sebagai inovator musik yang kuat, komponis dengan daya cipta yang hebat dan pencipta sesungguhnya dari konserto solo yang dipikirkan sebelumnya oleh Corelli dan Torelli.

Vivaldi menjadi kepala Konservatori (sekolah musik atau sekolah seni lainnya) Ospedale della Pieta, yang mempunyai hubungan dengan empat institusi biara. Tempat ini merupakan tempat penampungan yang kadang menampung hingga 6000 anak perempuan hasil hubungan di luar nikah. Sebelum adanya tempat penampungan ini, anak-anak itu biasanya dibuang di kanal-kanal kota. Dalam konservatori ini, anak-anak diajar bernyanyi, memainkan biola, flute, oragan, oboe, cello dll.

Setiap hari minggu atau hari-hari libur diadakan pertunjukan musik di kapel oleh anak-anak gadis ini. Para penonton diperbolehkan datang dan diizinkan duduk sepanjang mereka mau. Tetapi, tepuk tangan tidak diperbolehkan. Sebagai gantinya, terdapat bunyi batuk, dengusan hidung, hentakan kaki dan lainnya. Banyak musisi termasuk Handel yang memberi komentar positif terhadap pertunjukan ini.

Di manapun Vivaldi berada, ada berlimpah-limpah gubahan musik. Vivaldi merupakan komponis progresif yang penuh dengan ide dan konservatori itu merupakan lingkungan yang indah untuk bereksperimen dengan musik. Ia seorang yang kontras - mudah marah tetapi mudah pula tenang. Karakteristik ini tercermin dalam musiknya yang diwarnai dengan kontras dramatis dalam dinamika dan harmoni serta ritme yang berubah-ubah namun ketergesaannya dalam menggubah musik adalah salah satu kelemahannya. Ada banyak kreasi dan melodi yang indah dalam musik Vivaldi karena ia senantiasa mencari suara-suara baru. Vivaldi selalu siap sedia dengan alat musik dan penyanyi untuk mencoba ide-ide barunya.

The Four Seasons barangkali merupakan karya Vivaldi yang paling terkenal. Itu adalah salah satu karya besarnya dalam musik deskriptif yang menandai kehidupan musik dalam zaman Vivaldi. Gayanya menjadi gaya yang diikuti sampai saat ini. Suara-suara burung yang dihasilkannya sama jelasnya dengan beberapa mosaik burung yang indah di Katedral St. Mark. Karyanya sering dipertunjukkan pada zaman ini. Vivaldi seorang penyair yang penuh dengan kuasa dalam liriknya, menciptakan sebuah soneta untuk tiap musim dan musik akan mengiringi tiap-tiap musim itu. The Four Seasons menghadirkan paralel gaya Barok yang penting dengan oratorio Haydn The Seasons. Selanjutnya muncul simfoni Pastoral Beethoven. Vivaldi merupakan salah seorang tokoh terkemuka pada masa transisi dari akhir gaya Barok menuju awal gaya klasik.

Konser The Four Seasons akan dibagi dua tahap yakni pada konser 23 Maret 2014 dan 19 April 2014. Silahkan menghubungi www.aulasimfoniajakarta.com untuk ticketing.

(dari buku "Karunia Musik" [Surabaya: Momentum])

Selasa, 04 Februari 2014

Konser 22 Feb. '14: Bach Orchestral Suite No. 3 (+Vivaldi, Schubert, Arne, Mendelssohn)

Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan konser yang penting pada 22 Februari 2014 dengan judul From Bach to Mendelssohn".

Terdapat beberapa karya besar yang dipentaskan dalam konser ini. Karya pertama adalah komposisi Bach Orchestral Suite No. 3. Karya ini digubah oleh Johann Sebastian Bach. Bach diakui sebagai komponis yang begitu besar dan agung sampai-sampai muncul adagium "Tanpa sadar Bach telah membagi sejarah musik dalam dua periode utama: zaman sebelum Bach dan zaman sesudah Bach. Pada zaman sesudah Bach, kehadirannya tetap dirasakan terus menerus".

Bach dan Handel dianggap sebagai tokoh terbesar zaman Barok (1600-1750). Istilah "Barok" berasal dari kata Portugis "barroco" yang berarti mutiara yang tidak teratur. Istilah "Barok" bukan sekedar menandakan suatu era dalam musik tetapi juga merupakan suatu zaman karena semangat Barok tampak dalam karya-karya non musik antara lain arsitektur dan lukisan (Rembrandt, Rubens, dll). Musik Barok menekankan beberapa ciri antara lain polifonik (banyak suara), kontrapung (counter-point - pergerakan nada yang mandiri/ berlawanan), penuh ornamentasi (detil yang rumit). Komponis Barok yang terkenal selain Bach dan Handel antara lain Schutz, Vivaldi, Rameau dan sebagainya.

Bach lahir dalam keluarga Kristen beraliran Lutheran. Fokus kehidupan spiritual Bach adalah di dalam kekristenan dan pelayanan rohani melalui musik. Bach adalah seorang yang berhutang kepada Tuhan dan terutama Tuhan Yesus sebagai Juruselamat-nya. Keyakinannya akan realitas surga membuat karya-karyanya tak lekang dimakan waktu. Bach menggunakan hidupnya dalam pelayanan musik bagi Allah tanpa menyadari kehebatan karyanya yang luar biasa itu. Motivasi utama Bach dalam menulis musik adalah untuk memuliakan Allah. Motivasi lainnya adalah edifikasi. Motivasi Bach sama seperti tujuan utama ibadah dalam teologi Reformasi: the glorification of God and the edification of the church. Pada halaman judul Bach menuliskan "untuk kemuliaan Allah di tempat yang mahatinggi dan untuk meningkatkan proses belajar setiap orang". Karena motivasi-motivasi ini maka Bach tidak pernah asal-asalan menggubah komposisi. Ia selalu mau menghasilkan komposisi yang terbaik.

Setelah kematian orang tuanya, Bach yang berusia sepuluh tahun tinggal bersama kakak lelakinya Johann Christoph yang telah berguru pada Pachelbel (ingat Canon in D-nya yang sangat terkenal?). Kakaknya adalah seorang guru yang sangat keras. Kakaknya mempunyai satu set komposisi yang tidak boleh dipakai oleh Johann Sebastian sehingga selama 6 bulan di tengah sunyinya malam dengan cahaya terang bulan ia menyalin semua komposisi itu. Sayangnya, inilah yang mungkin menyebabkan kebutaan di kemudian hari.

Setelah kematian kakaknya, Bach mengenyam pendidikan yang berfokus pada instrumen biola dan biola alto. Sebelum berusia 18 tahun, ia telah dikenal sebagai seorang ahli dalam memainkan clavichord, organ dan komponis. Ia memulai karier profesionalnya sebagai pemain biola dan biola alto dalam orkestra istana di Weimar. Meski demikian, Bach sulit melupakan cintanya kepada organ. Pada masa berikutnya, ia banyak menggubah komposisi untuk musik organ. Pengaruh musik organ Dietrich Buxtehude tidak dapat diabaikan dalam perjalanan karier Bach.

Dasar musik Bach adalah koral Jerman (paduan suara). Koral-koral di zaman Reformasi dalam gereja Lutheran Jerman yang mempengaruhinya, lebih berarah pada penyampaian pesan ketimbang penciptaan suasana hati. Koral-koral itu memuat pengakuan iman yang berdasarkan Alkitab dan bukan sekedar luapan perasaan pribadi.

Bach adalah seorang yang sangat disiplin. Ia mempergunakan kesempatan sebaik-sebaiknya dalam semua peristiwa, baik ataupun buruk, dalam hidupnya. Demikian sekilas pengenalan kita akan Bach. Lain-lain waktu, kita menulis lagi hal yang lain.

Orchestral Suites seringkali disebut sendiri oleh Bach sebagai "ouvertures". Istilah "ouverture" biasanya menunjuk kepada seksi pembukaan yang majestik, suatu gerakan pembukaan dari suatu karya besar, misalnya oratorio. Karya aslinya digubah sekitar 1730 tetapi kemudian dilanjutkan oleh anaknya CPE Bach dan muridnya Johann Ludwig Krebs.

Karya lain yang turut dipentaskan adalah Vivaldi Concerto for Guitar and String Orchestra; Arne Keyboard Concerto No. 5; Schubert Mass No. 2 in G Major; Mendelssohn Singet Dem Herrn Ein Neues Lied.

Conductor dari pementasan ini tidak asing lagi bagi kita yakni Dr. Billy Kristanto, Ph.D, Th.D. Para gurunya antara lain Mitzi Meyerson; Uwe Gronostay (Director of Berlin Philharmonic Choir); Ton Koopman; Stanley Hoogland. Terakhir ia mendalami musikologi di bawah Prof. Silke Leopold yang merupakan ahli Monteverdi, Handel dan Mozart di Universitas Heidelberg, Jerman. Dua disertasinya adalah "Musical Settings of Psalm 51 in Germany ca. 1600-1750 in the Perspectives of Reformational Music Aesthetics" (disertasi Ph.D) dan "Sola Dei Gloria: The Glory of God in the Thought of John Calvin" (disertasi Th.D) yang telah diterbitkan oleh penerbit internasional Peter Lang.

Terdapat 3 paduan suara dalam konser ini: Jakarta Oratorio Society, Reformed Oratorio Society-Singapore dan Medan Oratorio Society. Diiringi oleh Jakarta Symphony Orchestra.

Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.

(Source: buku Karunia Musik dan Wikipedia)

Kamis, 09 Januari 2014

Konser 25 Jan. '14: Rachmaninoff Piano Concerto No. 2 & Piano Recital Kevin Suherman

Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan konser pada 25 Januari 2014, yang berfokus pada acara utama seputar pementasan permainan piano. Pianis muda, "new emerging star", Kevin Suherman dipercayakan untuk memegang peranan penting dalam konser kali ini.

Kevin Suherman mulai tampil dalam pementasan permainan piano secara mengejutkan ketika ia memenangkan 2 kompetisi Yamaha di Bandung pada tahun 2004 dan 2005 ketika ia baru berusia 9 tahun. Pada usia 10 tahun, ia memecahkan rekor MURI ketika memainkan 50 lagu klasik, pop dan jazz non stop tanpa skor/ partitur. Pada tahun 2010, Kevin sebagai pianis dari Schimmel Piano, Jerman melakukan rekaman piano solo di Melbourne dan kemudian membuat album Schimmel yang kedua pada tahun 2011. Pada tahun 2013, Kevin memenangkan juara pertama secara nasional pada Australian Youth Classical Music Competition dan juga juara pada Royal South Street Chopin Competition. Pada saat ini ia sedang melanjutkan studi di bawah Prof. Max Cooke dan menyelesaikan studi Bachelor of Music di University of Melbourne, di mana ia menerima beasiswa secara reguler.

Dalam konser kali ini Kevin akan tampil bersama Jakarta Simfonia Orchestra di bawah arahan Dr. Stephen Tong untuk Rachamaninoff Piano Concerto No. 2. Sergei Rachmaninoff (1873-1943) merupakan komponis Rusia yang lahir dalam keluarga berbakat sebagai pianis. Kakeknya adalah seorang pianis terkemuka sedangkan ibunya adalah guru pianonya yang pertama ketika ia mulai belajar pada usia 4 tahun.

Rachmaninoff kemudian belajar di bawah Nikolai Zverev, seorang profesor musik yang luar biasa. Patut diingat, murid Zverev yang lain adalah Alexander Scriabin. Di Moskwa ini, ia mulai mengakhiri kebiasan buruk suka membuang-buang waktu dan bersenang-senang dan mulai dengan serius mempelajari piano.  Selama dua tahun belajar di bawah Zverev, ia mengalami kemajuan pesat sebagai pianis, komponis dan ahli musik.

Pada tahun 1892, Rachmaninoff lulus dari konservatori Moskwa dengan penghargaan tertinggi. Dengan suara bulat, Komite memutuskan untuk menghadiahinya nilai tertinggi. Rachmaninoff selalu memukau dalam ingatannya yang luar biasa sampai-sampai rekan-rekannya selalu menyamakannya dengan Mozart muda. Kecepatan Rachmaninoff mengingat komposisi-komposisi baru sangat luar biasa.

Musik Rachmaninoff cenderung termasuk musik abad 19 ketimbang abad 20; ia seorang yang secara tradisional mengikuti jejak Tchaikovsky. Dalam dunia musik, Rachmaninoff merasa ada satu penguasa tertinggi yakni melodi. Ia mengajarkan doktrin keindahan dalam musik.

Piano Concerto No. 2 pada nada C minor merupakan komposisi yang digubah Rachmaninoff pada tahun 1900-1901. Pada tahun 1897, dalam pementasan perdana simfoni yang pertama, Rachmaninoff mendapatkan banyak kritik. Pementasan berlangsung buruk dan dicurigai conductornya memimpin orkestra dalam keadaan mabuk. Hal ini menyebabkan ia mengalami depresi, ditambah dengan persoalan-persoalan pribadinya. Piano Concerto No. 2 yang digubahnya merupakan konfirmasi bahwa ia telah sembuh dari depresi klinis melalui hyphnotherapy. Karena itu, concerto ini dipersembahkan kepada Nikolai Dahl, seorang ahli medis yang berjasa dalam penyembuhannya.

Selain seksi piano concerto, pada seksi recital, Kevin juga akan memainkan Cesar Franck (Prelude, Chorale dan Fugue), Beethoven (Sonata Les Adieux 1st Movement), Chopin Scherzo No. 2 dan La Campanella dari Liszt.

Conductor pada konser ini adalah Dr. Stephen Tong yang dedikasinya untuk perkembangan musik klasik di tanah air tidak bisa diragukan lagi. Beberapa hari setelah operasi by pass pada jantungnya, ia tetap memimpin pementasan orkestrasi untuk karya Franz von Suppe - Light Cavarly Overture.

Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.

(sumber: "Karunia Musik" dan wikipedia)

Senin, 30 Desember 2013

Konser 5 Jan. '14: Piano Recital Aileen Gozali

Aula Simfonia Jakarta akan mengadakan pementasan spesial berupa piano recital dari Sdri. Aileen Gozali. Aileen saat ini merupakan murid pada Cleveland Institute of Music, US di bawah arahan Antonio Pompa-Baldi. Ia memulai pementasan piano solo pada usia 12 tahun. Saat ini ia berusia 19 tahun. Ia pernah memenangkan sejumlah kompetisi nasional dan internasional. Antara lain First Prize dalam kategori terbuka pada Young Pianist Competition, Singapore; the Encouragement Award dalam the 8th International Chopin Piano Competition in Asia (Japan); Silver Prize dalam 3rd ASEAN International Chopin Piano Competition (Junior High School Categor) di Kuala Lumpur. Ia juga memperoleh juara ketiga pada IIYM (2010) International Piano Competition, Kansas, US.

Ia akan memainkan beberapa lagu antara lain:

Pertama, Brahms Variation on a Theme of Paganini (Book 1 & 2). Mengenai Brahms pernah dipublikasikan dalam blog ini pada bagian sebelumnya. Karya ini merupakan karya piano yang digubah oleh Brahms pada tahun 1863 berdasarkan pada karya "Caprice No. 24 in A minor" gubahan Niccolo Paganini. Karya ini dikenal karena kedalaman emosional dan tantangan teknik yang sangat tinggi. David Dubal menggambarkan karya ini sebagai "sebuah legenda dalam literatur piano" dan dianggap sebagai salah satu karya yang amat sulit dalam literatur piano (source: wikipedia).

Kedua, Beethoven Sonata No. 30. Mengenai Beethoven pernah dipublikasikan dalam blog ini pada bagian sebelumnya. Komposisi ini digubah sekitar tahun 1820. Komposisi piano ini merupakan bentuk Sonata yakni komposisi yang terdiri dari beberapa gerakan yang dimainkan oleh satu atau dua alat musik. Sonata ini menyapu pendengar dengan karakter musik yang intim dan dramatis. Karya ini juga menampilkan keindahan melodis dan harmonis. Sonata ini terdiri dari 3 gerakan dan pada gerakan ketiga, terdiri dari 6 variasi (source: wikipedia).

Karya lain yang turut dipentaskan adalah Bach Prelude and Fugue No. 9; Schubert Impromptu No. 3 dan Scriabin Sonata No. 4. Silahkan menghubungi Aula Simfonia Jakarta untuk ticketing.

Kamis, 05 Desember 2013

Konser 22 Des.'13: Tchaikovsky Nutracker Suite & Handel Messiah Part 1

Konser Natal Aula Simfonia Jakarta akan dipentaskan pada hari Minggu, 22 Desember 2013 dengan menampilkan 3 karya utama selain Christmas Carols. [Untuk youth, diadakan pada Sabtu, 21 Des, Pk. 17.00 dengan acara yang kurang lebih sama].

Pertama, karya Mozart Eine Kleine Nachtmusik. Sebagian ulasan mengenai Mozart pernah dibahas di bagian lain blog ini. Karya Mozart yang dipentaskan kali ini adalah Serenade No. 13 untuk Strings G Major yang digubah pada tahun 1787. Judul "Eine Kleine Nachtmusik" berarti "A Little Night Music" (Sebuah Musik Malam yang Kecil). Mengenai musiknya, Hildesheimer mengatakan "bahkan bila kita mendengarnya di setiap sudut jalan, kualitasnya yang tinggi bersifat tak terbantahkan, suatu bagian musik yang langka, yang tertuang dari pulpen yang cerah dan bahagia (a light but happy pen)". Dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu karya orkestrasi Mozart yang sangat terkenal.

Kedua, Tchaikovsky Nutracker Suite. Peter Ilich Tchaikovsky (1840-1893) merupakan salah satu komponis Rusia yang sangat terkenal. Ia berkata "Sesungguhnya ada alasan untuk menjadi gila kalau saja tidak ada musik". Bakat musik Tchaikovsky sangat langka karena tak ada jejak-jejak musik dalam keluarganya. Ia menuntut ilmu untuk menjadi pengacara dan kemudian menjadi jurutulis di Kementerian Kehakiman tetapi talenta musiknya muncul setelah mendengarkan musik Mozart Don Giovanni. Pada usia 23 tahun ia mendaftarkan diri di Konservatori St. Petersburg yang baru didirikan oleh Anton Rubinstein. Tchaikovsky adalah orang Rusia pertama yang mendapatkan pelatihan sistematis mengenai dasar-dasar musik.

Temperamen Tchaikovsky yang melankolis dan mawas diri tercermin dengan jelas dalam musiknya. Ia menyayangi ibunya dengan segenap kegairahan sebagai seorang anak yang sangat sensitif. Tatkala ibunya meninggal karena kolera pada waktu ia berusia 14 tahun, emosinya sangat terpengaruh. Menenggelamkan diri dalam musik tatkala dirudung kesedihan merupakan pola dalam hidupnya. Ia bahkan menciptakan beberapa balet yang paling riang pada masa mengalami penderitaan batin.

Kehidupannya diwarnai kekerasan dan naluri seksualitas yang tidak normal. Ia tersiksa oleh homoseksualitasnya. Ia juga menderita epilepsi, migrain, insomnia dan serangan depresi. Hidupnya mengandung semua unsur tragedi namun ia tetap menghasilkan musik dengan gairah yang tak terkendali dan kehidupan yang dipenuhi prestasi artistik yang semakin meningkat.

The Nutcracker Suite merupakan balet malam Natal yang mengisahkan tentang seorang gadis kecil yang bermimpi bahwa hadiah alat pemecah kacang-kacangannya telah berubah menjadi seorang pangeran tampan. Tchaikovsky banyak memperoleh penghiburan dalam penderitaan pribadinya dengan menciptakan musik yang riang dan memikat.

Ketiga, George Frideric Handel (1685-1759). Lain-lain waktu, saya akan menulis lebih banyak mengenai Handel dan karya agungnya Mesias. Satu hal yang penting, Handel berbicara sangat sedikit tentang dirinya semasa hidupnya. Fakta pokok tentang hidupnya adalah musiknya. Ia akan bahagia bila mengetahui bahwa musiknya terutama Messiah, membawa sukacita dan kesenangan bagi banyak orang.

Konser kali ini akan dipimpin oleh 2 Conductor yakni Dr. Stephen Tong dan Eunice Tong Holden, M.Mus.

Dr. Stephen Tong adalah seorang otodidak dalam musik dan hampir dikatakan seperti "ensiklopedia musik yang hidup" karena mengenal begitu banyak komponis, karyanya dan pemusik besar dalam sejarah. Dr. Tong memimpin konser dan paduan suara sepanjang hampir tiga per empat hidupnya.

Conductor kedua, Eunice Tong Holden menyelesaikan Bachelor of Arts in Piano Performance di Calvin College, Grand Rapids, USA dan memperoleh gelar Master of Music in Conducting dari Westminster Choir College, Rider University, USA, di mana ia belajar di bawah Joseph Flummerfelt, Tim Brown, Andrew Meggil, Sun Min Lee, dan James Jordan. Ia pernah memenangkan Calvin Concerto Competition pada 2001 dengan memainkan Mendelssohn Piano Concerto in G Minor diiringi oleh Calvin Orchestra. Sebagai anggota dari Paduan Suara terkenal Westminster Symphony Choir, ia bernyanyi di bawah direksi Pierrre Boulez dari Cleveland Orchestra, Sir Colin Davis, Alan Gilbert dari New York Philharmonic dan sebagainya. Ia pernah memimpin 800 lebih anggota paduan suara dalam KKR Jakarta 2011. Ia juga pernah menjadi conductor untuk berbagai konser: Bach Magnificat, Handel Messiah, Mendelssohn Elijah dan sebagainya.

Ada tiga penyanyi dalam konser ini:

Pertama, Cecilia Yap menyelesaikan studi musik di Conservatorio of Santa Cecilia di Roma Italia di bawah soprano terkenal KS Ann Saldarelli dan Lorraine Nawa Jones Marenzi. Setelah itu ia studi di bawah direktur opera yang terkenal, Marcello Ferroni. Ia adalah pemenang dari 7th International Vocal Competition at Cascina, Italia pada tahun 1994 dan merupakan satu-satunya orang Asia dalam putaran final.

Kedua, Joseph Hu, seorang tenor terkenal berdarah Taiwan dan berdomisili di Amerika. Pada waktu ia mementas dalam pagelaran spekatakuler Madama Butterfly bersama San Diego Opera, ia dijuluki, "a first-rate comprimario tenor". Selain San Diego Opera, ia pernah bernanyi dalam Seattle Opera, Dallas Opera, San Antonio Opera, Israeli Opera in Tel Aviv, Michigan Opera, Cleveland Opera, Tulsa Opera, Syracuse Opera, Cincinnati Opera dan sebagainya. Selain itu, ia pernah bernyanyi untuk karya-karya gubahan Bach, Handel, Mozart bersama Tulsa Philharmonic, San Antonio Symphony dan National Symphony of Taiwan. Ia juga pernah bernyanyi di Carnegie Hall sebagai solois tenor dalam karya besar Requiem dari Mozart.

Ketiga, Anna Koor adalah "lyrical-dramatic mezzo-soprano". Ia merupakan salah seorang dari 10 finalis pada World Chinese Vocal Competition (2000). Anna telah mementas di berbagai negara di Asia dan Australia. Pada tahun 2003, ia diundang sebagai juri dalam 29th West Malaysia National Vocal Competition dan Festa Canzone Art Song Competition, Singapore pada tahun 2005 serta Tan Ngiang Ann Memorial Vocal Competition, Singapore pada tahun 2009. Ia pernah bernyanyi di Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru untuk lagu-lagu seperti St. Paul, Elijah, Messiah, Dixit Dominus dari komponis-komponis bergengsi.

Silahkan klik  www.aulasimfoniajakarta.com


(sumber: buku Karunia Musik dan Wikipedia serta sumber-sumber otoritatif lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu). 

Rabu, 13 November 2013

Konser 30 Nov. '13: Beethoven Piano Concerto No. 4 & Brahms Symphony No. 1

Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan pementasan spektakuler pada 30 November 2013 ini. Ada dua karya besar yang ditampilkan yakni Beethoven Piano Concerto No. 4 dan Brahms Symphony No. 1. Kita akan melihat sekilas mengenai 2 tokoh dan karyanya ini.

Pertama, Beethoven Piano Concerto No. 4. Karya ini digubah oleh Ludwig van Beethoven (1770-1827), seorang komponis yang percaya bahwa "kebebasan di atas segalanya". Ia menjadi legenda pada masa hidupnya dan keberadaannya mendominasi keseluruhan musik abad ke 19. Beethoven nyaris memuja Goethe, seorang penulis Jerman yang paling terkenal. Seperti si jenius di bidang sastra itu, Beethoven meyakini bahwa seniman memiliki tugas untuk mengungkapkan kegalauan sekaligus kedamaian dalam diri seseorang dan untuk mencari kesempurnaan orang itu sendiri.

Musik Beethoven penuh dengan kontras-kontras yang tajam. Renoir, pelukis asal Prancis, mengamati bahwa Beethoven "sangat tidak sopan dalam caranya mengungkapkan diri kepada orang lain; ia tidak mengecualikan kita dari sakit jantungnya dan sakit perutnya". Musik Beethoven memiliki energi luapan perasaan yang menggila. Musiknya terdengar meletup-letup dan mengundang luapan kegembiraan yang sangat besar dan kemudian tiba-tiba meleleh dalam kelembutan dan kesedihan, lalu kembali meledak dalam kedahsyatan. Ini merupakan pencurahan langsung dari kepribadiannya.

Sebuah review pada bulan Mei 1809 dalam edisi "Allgemeine musikalische Zeitung" menyatakan bahwa Piano Concerto No. 4 yang digubah Beethoven pada 1805-1806 ini merupakan suatu concerto yang paling dikagumi, paling unggul, paling artistik, paling kompleks yang pernah digubah oleh Beethoven" (the most admirable, singular, artistic, and complex Beethoven concerto ever).

Kedua, Brahms Symphony No. 1. Karya ini digubah oleh Johannes Brahms (1833-1897). Symphony yang berdurasi 50 menit ini, menurut Brahms sendiri, ditulis selama 21 tahun, mulai dari sketsa sampai selesai dengan tuntas. Ada dua kemungkinan mengapa hal ini bisa terjadi. Pertama, Brahms adalah seorang yang bersikap sangat kritis terhadap karya-karyanya sendiri sehingga menghilangkan banyak not yang tidak perlu. Hasilnya, ia secara konsisten menelurkan banyak komposisi yang bermutu tinggi. Namun, dampak lain adalah Brahms menjadi orang yang tidak mudah menggubah suatu karya.

Kemungkinan kedua, ada harapan/ ekspektasi dari kawan-kawan Brahms dan publik bahwa ia dapat meneruskan warisan Beethoven untuk menghasilkan karya simfonia dengan derajat yang tinggi dan skop intelektual yang luas. Harapan ini menyebabkan Brahms tidak mudah menghasilkan karya simfonia, mengingat reputasi monumental dari Beethoven.

Piano concerto akan dimainkan oleh pianis handal dari Taiwan, Shu-Wen Chuang dan diiringi oleh Jakarta Simfonia Orchestra yang dipimpin oleh Dr. Stephen Tong. Ms. Chuang merupakan seorang pianis yang sering mementas di Taiwan National Concert Hall. Ia baru saja memainkan piano recital di tempat yang bergengsi itu di Taiwan.

(bahan-bahan ini dicuplik dan diolah dari Jane Stuart Smith & Betty Carlson, "Karunia Musik" [Surabaya: Momentum] dan en.wikipedia.org. Pembaca dapat membeli buku tersebut untuk membaca sejarah dan penjelasan yang komprehensif dari komponis-komponis agung dalam sejarah. Masih banyak hal yang tidak mungkin dimuat dalam blog ini)

Jumat, 11 Oktober 2013

Konser 20 Okt. '13: Piano Recital Ananda Sukarlan

Aula Simfonia Jakarta kembali mengadakan pementasan spektakuler dengan Piano Recital Ananda Sukarlan, pada Minggu, 20 Oktober 2013. Berikut profil lengkap Ananda Sukarlan yang diambil dari Ensiklopedia Tokoh Indonesia.

Pianis handal dengan reputasi internasional ini kerap tampil solo atau terlibat dalam konser simfoni orkestra di seluruh penjuru Eropa. Musiknya telah banyak ditulis sebagai bahan disertasi dan tesis doktoral di beberapa universitas di 3 benua. Pianis yang menetap di Spanyol ini menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam buku "The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century", yang berisikan riwayat hidup 2000 orang yang dianggap berdedikasi pada dunia musik.

Dari sekian banyak pemusik papan atas Indonesia yang ingin go international, beberapa dari antara mereka ada yang sudah mencapai impiannya tersebut, meski tanpa publikasi berlebihan. Salah satunya adalah seorang pianis klasik asal Indonesia yang kehebatannya sudah diakui dunia bernama Ananda Sukarlan.

Musisi kelahiran Jakarta, 10 Juni 1968 ini mengaku terjun ke dunia musik secara tak sengaja. Bungsu dari tujuh bersaudara yang akrab disapa Andy ini lahir dan tumbuh bukan di keluarga pemusik. Ayahnya Letkol Sukarlan adalah seorang tentara sedangkan ibunya Poppy Kumudastuti berprofesi sebagai dosen di IKIP. Keenam kakaknya pun tidak ada yang memilih seni musik sebagai jalan hidupnya. Bahkan di masa kanak-kanaknya, ia sempat bercita-cita menjadi petugas pemadam kebakaran.

Andy mulai tertarik pada musik khususnya piano setelah sering mendengarkan salah seorang kakaknya yang bernama Martani Widjajanti memainkan piano. Kakaknya itulah yang kemudian menjadi guru piano pertama Andy. Selain itu, Andy kecil juga suka mendengarkan musik klasik dari piringan hitam teman orangtuanya yang pulang ke Belanda.
Saat duduk di bangku SMP, keinginan Andy untuk menjadi pianis semakin kuat. Untuk itu, Andy menuntut ilmu di Yayasan Pendidikan Musik Indonesia, di bawah bimbingan Soetarno Soetikno dan Rudy Laban. Untuk menambah referensi, Andy juga gemar menonton konser yang kerap digelar di Erasmus Huis, Taman Ismail Marzuki, dan hotel-hotel berbintang.

Karena nilainya tak cukup untuk kenaikan kelas, ia drop out. Andy pun harus menghadapi ejekan dari teman-temannya. Namun Andy tidak terbawa keadaan. Kebulatan tekadnya untuk menjadi seorang pianis hebat sudah begitu menggebu sehingga mengalahkan semua aral dan rintangan. Semua ejekan dan hinaan disikapi bagai angin lalu. "Saya tidak pernah memikirkan saya berbakat atau tidak. Saya kira kalau kita ingin sesuatu jalani saja, pasti nanti Tuhan membantu," ucap Andy.

Doa dan tekad Andy mulai mendapat jawaban. Pada tahun 1986, setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA Kolese Kanisius Jakarta, Andy mendapat beasiswa sekolah musik di Sekolah Musik Walter Hautzig di Harford, Connecticut, Amerika Serikat, untuk satu semester. Beasiswa itu dia peroleh dari Piano Petrof, sebuah lembaga yang memberikan beasiswa untuk anak-anak berbakat.

Sekembalinya ke Tanah Air karena beasiswa terputus, Andy menemui Fuad Hasan,
Menteri P & K saat itu yang tengah menjalin kerja sama dengan Belanda. Atas informasi dari Fuad bahwa Belanda memberikan beasiswa, Andy pun mengikuti tes dan lolos.

Di tengah kesulitan yang melanda, Andy tetap bersemangat mempelajari piano. Ia juga mengikuti berbagai ajang perlombaan seperti Kompetisi Musik Nasional Belanda dan berhasil meraih Eduard Elipse Award di tahun 1988. Lima tahun kemudian, ia membuktikan diri sebagai pianis jempolan di Nadia Boulanger Prize. Hadiah yang diperolehnya kala itu cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan dan melunasi utang-utangnya. Kuliahnya di Fakultas Piano Koninklijk Conservatorium pun rampung. Andy berhasil meraih gelar master dengan predikat summa cum laude. Dengan gelar itu, Andy semakin percaya diri menatap masa depannya sebagai pianis.

Keberadaan di Belanda menjadi blessing, karena di Eropa negaranya banyak, sehingga karir saya bisa lebih terbuka," ujarnya seraya mengenang awal karirnya. Kuliah di luar negeri bukan tanpa cobaan. Pada 1993, hubungan Indonesia dengan Belanda terputus, akibatnya beasiswa pun ikut terputus. Karena kehabisan uang, selama berbulan-bulan Andy bahkan pernah makan nasi hanya dengan kecap, belum lagi utang yang kian hari kian menumpuk. Meski demikian, Andy tidak mau menyerah pada keadaan.

Di tengah kesulitan yang melanda, Andy tetap bersemangat mempelajari piano. Ia juga mengikuti berbagai ajang perlombaan seperti Kompetisi Musik Nasional Belanda dan berhasil meraih Eduard Elipse Award di tahun 1988. Lima tahun kemudian, ia membuktikan diri sebagai pianis jempolan di Nadia Boulanger Prize. Hadiah yang diperolehnya kala itu cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan dan melunasi utang-utangnya. Kuliahnya di Fakultas Piano Koninklijk Conservatorium pun rampung. Andy berhasil meraih gelar master dengan predikat summa cum laude. Dengan gelar itu, Andy semakin percaya diri menatap masa depannya sebagai pianis.

Untuk genre musik yang diusungnya, kebanyakan orang sering menyebutnya sebagai pianis musik klasik namun ia menampiknya. Pria berkacamata ini lebih suka menyebut alirannya sebagai musik sastra. Sensibilitas pianis yang satu ini terhadap karya puisi memang terbilang tinggi. "Puisi itu seperti sudah bernada dan berbunyi menjadi musik," kata Andy. Tak jarang ia mendapat inspirasi dari banyak karya sastra yang dibacanya seperti karya dari beberapa sastrawan Spanyol, seperti Jorge Luis Borges atau Gabriel Garcia Marquest. Sementara untuk seniman sastra dalam negeri, Andy amat menggandrungi karya-karya Sapardi Djoko Damono, Ismail Marzuki, dan Eka Budianta.

Perlahan tapi pasti, kemampuan pianis muda ini semakin diperhitungkan. Undangan untuk tampil solo atau terlibat dalam konser simfoni orkestra di Eropa mulai menghampiri. Pengalaman konser di Eropa kemudian membawanya mengenal komponis kaliber dunia, salah satu diantaranya adalah musisi asal Inggris, Sir Michael Tippet. Tippet, bahkan menulis tentang interpretasi Ananda atas karyanya Sonata Piano No. 1 dalam CD The Pentatonic Connection (Erasmus WVH 139), "Saya cukup terkesima dengan kesegaran dan vitalis dari permainannya. Interpretasi Ananda Sukarlan memberikan karya tersebut kekuatan dan puisi yang mengangkatnya ke jenjang baru. Secara teknis permainannya tanpa cela dan kontrol suaranya serta keaneka-ragaman warna suaranya mengagumkan."

Ananda Sukarlan termasuk pianis yang aktif menggelar pertunjukan. Dalam setahun ia bisa mengadakan pertunjukan hingga 60 - 80 kali atau 5-7 kali per bulannya. Andy juga sering mendapat undangan untuk turut ambil bagian dalam orkes-orkes terkemuka dunia seperti di Rotterdam, Berlin, Madrid dan masih banyak lagi. Dengan musikalitasnya yang kian matang, ia pun mendapat kepercayaan untuk memberi resital piano tunggal di gedung-gedung konser paling bergengsi di Eropa seperti Concertgebouw Amsterdam, Philharmonie Berlin, Auditorio Nacional (Madrid), Rachmaninoff Hall (Moskow), serta Queen's Hall (Edinburg).

Lebih dari 70 komposisi musik untuk piano berupa concerto maupun solo telah ditulis khusus untuknya oleh berbagai komponis dunia untuk dimainkan Ananda antara lain Nancy Van der Vate dan Roderik de Man. Permainannya pun telah direkam dalam sejumlah CD oleh berbagai perusahaan rekaman Belanda, Austria, Italia, dan Spanyol. Rekamannya atas musik piano Theo Loevendie berhasil meraih urutan kedua dari Vienna Modern Masters Performers Recording Award (dikeluarkan dalam bentuk CD oleh VMM).

Musiknya telah banyak ditulis sebagai bahan disertasi dan tesis doktoral di beberapa universitas di 3 benua. Ia juga kerap didaulat sebagai pembicara untuk mengajar atau memberi ceramah, antara lain di Middlesex University (London), Edinburgh University, Griffith University (Queensland), Sydney Conservatory of Music, Maastricht Conservatory of Music, Monterrey Conservatory (Mexico) dan banyak konservatorium di Spanyol. Ia juga sering menuangkan pemikirannya dalam berbagai artikel mengenai musik di blognya serta beberapa majalah budaya di Spanyol dan Australia.

Namanya pun semakin dikenal sebagai musisi asal Indonesia yang karirnya mendunia. Sukses menjadi pianis bertaraf internasional tak membuat Andy lupa pada tanah kelahirannya. Sesekali ia menyempatkan diri untuk mudik dan menggelar konser. Pada Agustus 2000, Andy mengadakan sebuah konser recital piano eksklusif untuk Presiden RI Bapak Abdurrahman Wahid di Istana Merdeka.

Empat tahun kemudian, ia kembali menggelar konser Resital Piano di Tanah Air yang bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM). Dalam pertunjukannya waktu itu, Andy sukses membawakan empat komposisi lagu yakni Don`t Forget karya Gareth Faar (New Zealand), Little Passacaglia karya Peter Scultthurpe (Australia), Many Return to Bali karya Per Norgaard (Denmark), serta Ananda Mania karya Santiago Lanchares (Spanyol). Pianis yang pernah dijuluki 'A Brilliant Young Indonesian Pianist' ini juga menyajikan karya Chopin Nocturnes dan Sonatas karya A.A. Mozart, serta cuplikan karya Yaseed Djamin.

Pada akhir Juni 2010, Ananda Sukarlan berkolaborasi dengan koreografer dan penari Chendra Panatan menggelar konser bertajuk "5 Anniversary Years of Artistic Collaboration" di Gedung Kesenian Jakarta (24/6). Pentas itu dalam rangka menyambut HUT ibukota ke-483 dalam program "Jakarta Anniversary Festival VIII 2010" bertema "Jakarta dalam Potret & Gambar yang Bergerak, Suatu Dinamika Kota". Pagelaran ini menampilkan beberapa karya hasil kolaborasi keduanya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yang telah dipagelarkan di Inggris, Spanyol dan Indonesia. Mereka juga telah bersama mendirikan Yayasan Musik sastra Indonesia (musik-sastra.com) bersama Ibu Pia Alisjahbana dan Bapak Dedi S Panigoro yang bertujuan memasyarakatkan seni pertunjukan terutama kepada mereka yang secara finansial tidak mampu.

Di pagelaran yang mencampur seni tari, sastra, musik dan lighting itu, mereka membawakan koreografi dengan musik oleh komponis David del Puerto, Santiago Lanchares dan Ananda Sukarlan sendiri. Juga ditampilkan duo Ananda Sukarlan dengan pianis muda berbakat Elwin Hendrijanto, memainkan "West Side Story Symphonic Dances" karya komponis Amerika Leonard Bernstein. Duo piano ini juga menutup konser dengan karya besar Ananda Sukarlan, "The Humiliation of Drupadi" yang sukses besar diperdanakan di Jakarta New Year Concert 2009.
Berbagai penghargaan bergengsi juga telah diraihnya. Misalnya dari Guinness Book of Record atas keberhasilannya memperdanakan 38 karya baru dalam Festival Musik Modern di Alicante-Spanyol pada September 1995. Terakhir, namanya masuk sebagai satu-satunya musisi Indonesia dalam The International Who's Who in Music dan 2000 Outstanding Musicians on the 20th Century. Dengan segudang prestasi itu, Andy semakin mengharumkan nama bangsa. Ia adalah musisi Tanah Air pertama yang membuka kembali hubungan kebudayaan Indonesia-Portugal dengan memenuhi undangan sebagai solois di Orkes Simfoni Nasional Portugal (Orquestra Sinfinica Nacional Portuguesa) pada akhir tahun 2000.

Masih di tahun yang sama, tepatnya pada Oktober 2000, Ratu Sofia dari Spanyol mengundangnya untuk konser pada acara malam gala Queen Sofia Prize di Madrid, Spanyol, yang disiarkan di televisi semua negara Eropa Barat. Dua tahun berselang, Andy terikat dengan berbagai kontrak konser di antaranya kontrak dengan komponis besar Perancis Pierre Boulez untuk mengadakan tur konser ke-11 kota di antaranya Helsinkski, Oslo, Santiago, Paris untuk mempergelarkan karya untuk piano, ensemble dan komputer.

Pada tahun 1998, pengagum tokoh musik Lenock Berstain dan Stravinsky ini pindah ke Spanyol, tinggal di kawasan pegunungan Spanyol utara, bersama istrinya yang berkebangsaan Spanyol, Raquel Gomez. Raquel adalah mantan asistennya ketika konser di Spanyol. Pasangan ini dikaruniai seorang putri bernama Alicia Pirena Sukarlan. Keluarga musisi ini menikmati hidup di rumah berhalaman luas yang dirawat sendiri. Di rumah yang sudah lama diimpikannya itu, Andy leluasa melakukan hobinya berkebun dan berenang.
Sejak itu, praktis Andy lebih memilih berkarir di luar negeri terutama Eropa. Alasannya, kalau di luar negeri, ia merasa lebih berguna bagi orang Indonesia karena ia memainkan karya komponis Indonesia di sana. Selain itu, masyarakat luar negeri lebih dapat mengapresiasi kerja keras para seniman musik berprestasi dengan memberikan penghargaan materi yang setimpal.

Selain itu, Andy menyimpan keprihatinan mendalam terhadap kondisi musik di Tanah Air yang menurutnya sudah dalam fase yang amat parah. Terutama industri musik pop karena dianggap tidak berkembang dan miskin pemusik yang idealis. Andy membandingkan industri musik pop saat ini yang jauh berbeda dengan tahun 1970-an. Di masa itu, menurutnya lagu-lagu pop dibuat dengan komposisi dan harmonisasi yang baik.
Minat masyarakat Indonesia terhadap musik klasik juga ia nilai masih kurang, bahkan bisa dikatakan cukup tertinggal. Kurikulum yang ada di sekolah, utamanya musik, untuk mengenalkan musik klasik juga masih minim. Untuk mengatasi permasalah pelik seperti itu, perhatian dari pemerintah mutlak diperlukan. eti | muli, mlp


Sumber: www.tokohindonesia.com
Copyright © tokohindonesia.com






Minggu, 22 September 2013

Konser 05 Okt. '13: Haydn Piano Concerto & Mozart Symphony 39

Dalam konser 5 Oktober 2013 di Aula Simfonia Jakarta, akan menampilkan dua karya besar dari Haydn dan Mozart (selain itu ada karya-karya lain yang juga dipentaskan).

Pertama, Franz Joseph Haydn (1732-1809). Haydn mengatakan: "Allah mengaruniaiku hati yang gembira maka Dia pun pasti akan mengampuniku bila aku melayaniNya dengan gembira". Haydn merupakan salah seorang komponis paling produktif dan bijak dalam sejarah. Musik Haydn mengandung keceriaan, keindahan, kelogisan, keteraturan, keagungan, kesegaran imajinasi dan humor. Haydn menghargai Allah dan keteraturan dalam ciptaanNya. Haydn berkata: "hanya ada sedikit orang yang berbahagia dan mendapatkan kepuasan di bumi ini; di mana-mana kedukaan dan kesusahanlah yang tampak; barangkali hasil kerjamu suatu hari nanti dapat menjadi sumber di mana mereka yang letih lesu atau mereka yang disusahkan dengan segala urusannya dapat mendapatkan saat-saat yang menenangkan dan melegakan".

Haydn lahir dalam keluarga yang sederhana dan hidup miskin. Karnea menang atas berbagai kesulitannya dengan kegigihan dan akalnya yang panjang, Haydn menjadi salah seorang dengan semangat paling independen dalam sejarah musik, dan salah seorang yang paling tenang dan disiplin. Ia selalu menganggap tindakan menggubah musik sebagai pekerjaan, sehingga iapun mengatur waktu yang teratur untuk menggubah. Ketika tidak ada ide datang, ia berdoa untuk mendapatkannya. Ketika ide itu datang, ia bekerja dengan kerajinan yang tak henti-hentinya. Sayang, ia mendapat istri yang bukan saja tidak mengerti musik tetapi menggunakan naskah musik Haydn sebagai kertas alas kue atau kertas keriting rambut. Haydn begitu dekat dengan Mozart dan merupakan guru dari Beethoven.

(Saksikan Presentasi Musikal dari Dr. Billy Kristanto mengenai Piano Concerto Haydn di link ini)

Kedua, dalam konser itu juga akan dipentaskan karya Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang memanggil Haydn sebagai "Papa Haydn". Setiap kali Goethe berbicara tentang natur seorang yang jenius, ia pasti akan berbicara tentang Mozart, yang tampak baginya sebagai "inkarnasi manusia dari kekuatan ilahi atas penciptaan". Talentanya dalam menciptakan musik bagaikan suatu fenomena kosmik. Sejak usia 4 tahun hingga 35 tahun ia menulis begitu banyak sehingga seseorang takkan mampu mendengarkan setengah dari gubahan musiknya meski didengarkan sepanjang hidup.

Meski hidupnya sulit, kesulitan itu tidak tampak dalam musiknya. Ia tetap menggubah musik yang riang. Mozart memiliki karakter bersemangat, riang gembira, penuh humor, lincah yang tampak dalam musiknya. Musiknya merupakan perpaduan sempurna gaya musik Italia, Jerman dan Prancis. Pada umumnya, cita rasa merupakan kekhususan kesenian Italia, dan pengetahuan merupakan kesenian Jerman. Kontribusi Prancis adalah keanggunan. Pada usia 6 ia sudah menggubah minuet (ragam tari lincah dari Prancis dengan birama 3/4); umur 9 menggubah simfoni, umur 11 menulis oratorio dan setahun kemudian menghasilkan opera.

Symphony No. 39 merupakan 3 symphony terakhir yang besar (39, 40, 41) yang dihasilkan hanya dalam 6 minggu pada tahun 1788. Konser kali ini akan dipenuhi musik-musik lincah dan riang. Alangkah sayangnya melewatkan konser klasik yang indah ini.

Pianis dan Conductor dari konser kali ini adalah Billy Kristanto, Ph.D, Th.D. Ia mempelajari musik di bawah Ton Koopman dan Silke Leopold di Eropa dan terakhir mendapatkan Ph.D dalam musikologi dari Universitas Heidelberg Jerman. Ia juga mendapatkan Doctor of Theology dari universitas yang sama. Dr. Billy telah mementas baik sebagai pianis maupun Conductor di berbagai konser di dalam dan luar negeri.

Ada dua soprano dalam konser ini. Pertama, Natalia Kumkova. Ia lahir di Leningrad dan mempelajari musik dalam sekolah lokal di sana. Setelah itu ia diterima di Rimsky-Korsakov Choral College di mana ia mempelajari Choral Conducting, Piano, dan Soprano dan memperoleh First Prize in Accompaniment. Setelah itu ia studi di bawah Tatiana Nemkina di Leningrad State Conservatory. Sejak lama ia telah menjadi soprano di St. Petersburg Chamber Choir di bawah Conductor Nikolai Kornev. Ia pernah pentas bersama orkestra-orkestra besar seperti New York, London, Berlin, Rotterdam di berbagai gedung konser bergengsi di dunia. Saat ini berdomisili di Singapura.

Soprano kedua adalah Elsa Pardosi. Ia menyelesaikan Bachelor of Church Music di Singapore Bible College. Kemudian ia menyelesaikan studi Postgraduate Diploma in Music Pedagogy dari Kodaly Institute of Ferenc Liszt Music Academy of Budapest, Hungaria. Ia pernah bernyanyi dalam berbagai konser penting dan kebaktian-kebaktian akbar yang dihadiri ribuan orang.

(catatan mengenai biografi Haydn dan Mozart dicuplik dari Jane Stuart Smith dan Betty Carlson, "Karunia Musik" [Surabaya: Momentum])